TEKNIK LINGKUNGAN ITS’s Weblog

Blog Komunitas Teknik Lingkungan ITS Surabaya

(Standardisasi) tanggapan untuk pak Ardi

Posted by HUDA L-13 pada 12 Juni 2008

——————-arsip milis t-lingkungan-its bulan Oktober 2003——————-
(Standardisasi) tanggapan untuk pak Ardi
O alah pak Ardi, ya sorry.
Tadinya saya bermaksud menanggapi lowongan yang dikirim Aliem, yang mensyaratkan 1 orang tapi harus menguasai 3 standard sekaligus. Ya baiklah, biar aku bisa belajar jadi dewasa kaya mas Tri (saiki sik pancet ae pak, pancet urakan lan mbeling wae…durung nikah se…hihihi), saya coba men-summary-kan sedikit (judulnya tak ganti standardisasi ya pak, biar tertib alur per-milisan TL ini).
Begini pak Ardi,
Sekarang ini untuk memudahkan suatu perusahaan dalam mengukur kuaitas baik pekerjaan, lingkungan maupun kontraktor2 yang bekerja dibawahnya, maka berkembang suatu standardisasi internasional, misalkan ISO (Nb: ini terlepas dari sikap saya apakah saya pro/kontra dengan isu globalisasi).
Ini bukan cuma minyak, pak. Tapi untuk seluruh jenis industri. Hanya memang minyak dan gas dijadikan barometer dalam pengukuran kualitas karena standardnya yang tinggi.
Contohnya begini nih pak, misal ada perusahaan A punya proyek di B. Otomatis B harus mengontrol kerjaan si A supaya memenuhi apa yang disyaratkan si B. Menurut B, perusahaan A bernilai plus. Nah ketika si A ikut tender di C, ternyata A dinilai minus, nah berarti penilaian ini kan subyektif…………
Supaya ada kriteria baku, maka lahirlah standar.
Banyak institusi2 besar di Eropa dan Amerika yang berkumpul untuk membakukan sebuah standar (saya tidak membahas permasalahan kepentingan politis di balik itu). Nah, untuk Standar Mutu/Kualitas, ISO lah yang diakui oleh dunia, makanya standardnya ISO yang banyak laku.
Untuk Quality Management, lahir seri2 ISO 9000, untuk Environmental Management lahir seri2 ISO 14000. Nah, di lowongannya Alim, menyebutkan ISO 18000 untuk Quality of Health, Safety and Environmental, ini yang saya sangkal.
Ceritanya kurang lebih begini:
Yang diakui oleh dunia untuk HSE, sampai saat ini masih OSHA dan OHSAS, salah satunya OHSAS 18000. Tetapi kecenderungan di industri2 besar saat ini, tren beralih menjadi satu per-merger-an, antara ISO 14000 dan OHSAS 18000 dimana salah satu goal “Zerro polution” nya ISO 14000 dan “Zerro Accidet”nya OHSAS 18000 dicoba digabungkan untuk mencari objective target yang lebih bermutu, dikarenakan ternyata pollution merupakan salah satu penyebab accident. Makanya perusahaan2 seperti Caltex (yang saya tahu), Environmental Protection department malahan ada dibawah HSE Corporate Dept.
Dengan kata lain, kalau kita belajar ISO 14000, itu malah jadi sebagian dari bidang HSE.
Keinginan untuk mewujudkan Environmental di bawah HSE, ditanggapi OHSAS dengan mendaftarkan salah satu seri standardnya, yaitu 18000 untuk menjadi standard ISO, ya jadinya ISO 18000 begitu. Namun sampai detik ini, secara resmi menurut BSI (British standard) yang dianggap jubir-nya CEN (Standardisasi komite-nya eropa), OHSAS 18000 belum diterima menjadi sebuah standard ISO. Nah makanya kalau di lowongan nya Aliem menyebutkan harus tahu standard ISO 18000, itu salah.
Begitu pak Ardi.
Mengenai kenapa harus merger, kenapa ISO begitu menginginkan satu standard saja antara ISO 9000 dan 14000, nanti saja, sementara saya menunggu masukan dari teman2 lain yang lebih mengetahui ini.
Terimakasih.
rgds,
~Iwoel
———————————
ISO
Cak Hud, Phien, tak jawab sak ngertiku yo,
trus tak cc nang milis tl, ben ono sing nambahi…

Pada dasarnya ada 2 lembaga, 1 lembaga akreditasi dan 1 lembaga sertifikasi.
Itupun ada yg luar dan ada yg lokal.

Lembaga akreditasi berhak untuk melakukan akreditasi terhadap lembaga
sertifikasi, juga berhak untuk memberikan sertifikasi pada perusahaan.
Sedangkan lembaga sertifikasi hanya bisa men-certified perusahaan saja.
Kebanyakan lembaga akreditasi berada di Inggris, karena memang ISO
berkembangnya disono.

Lembaga akreditasi misalnya UKAS, RvA, BS, SGS, dll.
Sedangkan lembaga sertifikasi misalnya DNV, Sucofindo, KEMA, dll.

DNV, KEMA, dll, sebelum dia memberi sertifikasi, dia harus diakreditasi dulu
oleh accreditation body seperti UKAS, RvA, dll.
Kalau DNV oleh RvA, kalau Sucofindo oleh SGS, dll.

Nah, kalau perusahaan kita minta sertifikasi ISO 14000 misalkan, yang kasih
sertifikasi RvA,
maka dalam logo ISO 14000 ada logo RvA.
Tapi kalau kita disertifikasi oleh DNV, maka akan ada 2 logo, yaitu DNV dan
RvA sebagai accreditation bodinya.

Sedangkan kalau lokal, kita punya namanya KAN (Komite Akreditasi Nasional).
KAN mengakreditasi lembaga lokal kita yaitu BSN (Badan Sertifikasi Nasional)
untuk memberikan sertifikasi sekaligus mendesign
standar yang akhirnya bernama SNI (Standar Nasional Indonesia) (lihat di
http://www.bsn.or.id)

Kita memang tidak harus mendaftarkan sertifikasi kita.
Tapi untuk kepentingan bisnis, seharusnya sih didaftarkan saja.
Kalau kita pakai BSN, maka kita bisa mendaftarkan sertifikasi kita kesitu,
jadi sekalian jadi daftar nasional.
Cuma kalau pakai luar, kayaknya ke Kadin mungkin yah…
Cuma tergantung bidangnya sih,
Kalau ditempatku karena industri MIGAS, jadi yah langsung didaftarkan ke
MIGAS, jadi sewaktu ada pengklasifikasian perusahaan, perusahaanku bisa
untung karena “grade” nya naik karena telah ter-sertifikasi.

Nah, misal kita pakai badan sertifikasi seperti DNV.
kalau kita nggak puas karena mereka kurang profesional, kita bisa lapor ke
RvA sebagai lembaga akreditasi mereka.

Kalau perusahaan kita pakai Accreditation body untuk sertifikasi,
wah…mahal.

Biasanya sih perusahaan Indonesia banyak pakai SGS, karena lumayan murah dan
berkualitas.
Kalau PMA, biasanya pakai DNV, karena even mereka cuma certification body,
tapi DNV sudah dikenal menghasilkan beberapa standar mutu yang salah satunya
banyak dipakai di Industri secara technical. (Salah satu aturan2 audit,
kalau ISO kan pakai ISO 19011, nah standar DNV malah sudah diaplikasikan
untuk PSE/Process Safety Engineering yang kompatibel dengan ISRS dan malah
sudah melahirkan Modern Safety Management yang akan menyaingi OHSAS 18000)

Atau kalau bergeraknya cuma lokal aja, kenapa gak pakai BKI, atau Sucofindo,
yang penting dapet kan.

Tapi juga demi kepentingan bisnis, meskipun lembaga2 sertifikasi luar
seperti KEMA, DNV dll yg ada di Indonesia, untuk bisa beroperasi mereka juga
harus diakreditasi oleh KAN loh. Jadi sebaiknya cari lembaga sertifikasi
luar yang telah diakreditasi oleh KAN, jadi setelah dapet sertifikasinya,
kita bisa ndaftarin sertifikat kita ke BSN.

Info lebih lengkap, please visit url below:
http://www.bsn.or.id/conformity-ind.htm

Mungkin ada yg mau nambahin lagi. Maturnuwun.

Iwoel
L-13/54

—————————————-

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: