TEKNIK LINGKUNGAN ITS’s Weblog

Blog Komunitas Teknik Lingkungan ITS Surabaya

English on elective subjects

Posted by HUDA L-13 pada 12 Juni 2008

———–arsip diskusi milis t-lingkungan-its bulan Mei 2003————–
English on elective subjects

Dear all TL alumni,
Ini sebenarnya email saya kedua. yang pertama tak tau
nyantol dimana? Kalau memang terduplikasi, mohon
dimaafkan. Ini saya sampaikan lagi, sebab saya bisa
dianggap bersalah kalau tdk menyampaikan dalam forum
berbahagia ini. Demikian juga email saya ke mas Andik,
mbak Nyoman Marleni, dan mbak Rima Sembayang, mudah2an
sampai semuanya….saking banyaknya email.

Saya pernah mengusulkan supaya diajarkan mata kuliah
pilihan dalam full bahasa Inggris. Jadi UTS/AUS juga akan
diujikan dalam English. Tapi ini hingga sekarang belum
terlaksana. yang ada hanya anjuran saja, jadi suka2 lah,
dan itupun sekarang tidak jalan juga.

Mengapa saya usulkan untuk matakuliah pilihan, sebab
mungkin tidak memberatkan. Lagipula, yang merasa
Englishnya not good enough, bisa mengambil mata kuliah
pilihan lain, ataupun hanya sit-in saja. Kebetulan ada
beberapa students yang hanya sit-in di kuliah saya.

Mata kuliah inipun hanya diambil oleh mahasiswa baru saja,
yang sudah tau akan ada matakuliah pilihan tertentu dalam
bahasa Inggris sejak UMPTN nya. Jadi ndak usah ambil TL
(bahkan mungkin begitu) karena ada matakuliahnya yang
dalam full English. Ini tentu tidak memberatkan mahasiswa
angkatan ‘tua’.

Mengapa ini saya usulkan. Suka tidak suka, AFTA sudah di
depan mata. Apalagi kalau bu Mega bilang ya! Habislah
alumni kita dalam bersaing lapangan kerja. Misal saja ada
lowongan kerja (dari KOMPAS misalnya) untuk sarjana TL
dengan salary US$1.000/month. Bisa jadi mahasiswa kita
(baca: Indonesia) lolaklolok just for the sake of poor
English!

Well, ini hanya pemikiran. Kalau kita pilih status quo, ya
ndak apa. memang itu maunya. Tapi kalau mau satu nilai
tambah, mungkin forum berbahagia ini bisa membantu
mewujudkan rencana itu, ataupun melalui cara lain.

All the best. Please contemplate during the weekend.
WAssalam
edot

—————————-

Re: English on elective subjects

Pak Eddy,
Saya setuju sekali dengan usulan Pak Eddy untuk memberikan mata
kuliah berbasiskan bahasa Inggris.
Karena kebanyakan kelemahan kita adalah dari segi bahasa Inggris ini.

Tempat dimana saya bekerja, kami nmenggunakan dual bahasa,
yakni bahasa Inggris dan bahasa Indonesia,
dan kecenderungannya bahasa Inggris dipergunakan dalam pekerjaan
sehari-hari, reporting, email, ataupun hal-hal lain.
Dan saya yakin di tempat kerja beberapa rekan Teknik Lingkungan yang
lain pun mengalami system yang sama.

Sudah waktunya memang kita berpikiran global,
karena memang AFTA sudah didepan mata.

Mungkin sekedar bayangan, banyak perusahaan2,
lebih senang meng-hire orang2 dari Filipina atau India,
karena mereka didukung bahasa Inggris yang baik,
dan selain itu etos kerja yang bagus.

Dan terus terang buat rekan-2 Teknik Lingkungan,
seperti yang diutarakan Pak Eddy, salary US$1000/month itu bukan
suatu impian.

Dan sekedar info kalo teman2 sempat membaca di Harian Kompas sekitar
akhir Maret 2003, ada lowongan dari Qatar Petroleum, yakni untuk Air
Quality Monitoring Technician, salary US$1000 – US$1500 /month, cuman
sayangnya status yang ditawarkan kepada saya saat pada saat itu
adalah Single Status.

I am sure if we want to make a move, we should trying hard to achieve
it..

Good luck.

Regards,
Tenno Singgalang
Environmental Engineering
Towns Management PT.Freeport Indonesia

—————————

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] English on elective subjects

Assalamualaikum
Wah menarik juga, mudah-mudahan belum terlambat ikut dalam sumbang pikiran ini.
Saya masih teringat waktu acara “pembayatan” graduate saya awal th. 2000 (3
tahun lalu). Beliau (pak Eddy atau Pak Edot) bilang, 2 hal pada kami.pertama,
kalo memungkinkan sarjana TL “pulang kampung” untuk memberian partisipasi
keilmuan dan keprofesiannya pada masyarakat luas. hal ini dengan dibukanya pintu
otonomi daerah yang konon membuka opportunity di sana.kedua, masalah komunikasi,
dalam hal ini adalah bahasa sebagai medianya. beliau mengatakan akan terlambat
bila ‘kita-kita’ yang mau lulus ini dulu, baru belajar english. nggak ada waktu
kata beliau, karena waktu kita totally spending for jobs.
saya juga masih ingat perkataan Pak Wahyono saat kuliah umum/seminar ketika saya
kuiah di semester pertengahan kuliah saya.Beliau (PAk Wah) mengatakan, jangan
jadi ‘pekerja kelas kedua’ hanya karena masalah komunikasi (=English).

kembali, ke usulan/tanggapan dan opini teman-teman tentang masalah ini, saya
sangat mendukung apa yang pak Edot kemukakan.tapi satu hal yang terus terang
mengusik saya:”Pak, kenapa sich baru sekarang Bapak atau dosen lainnya
mengusulkan itu? koq tidak dari dulu? kan kita-kita yang ‘terlanjur’ lulus ini
bisa dapat merasakan manfaatnya.”

Saya waktu awal lulus memang mengalami kesulitan untuk mengadaptasi mengenai
pekerjaan dan lingkungan (=budaya) kerja. Memang hal ini sangat wajar bagi
seorang fresh graduate di indonesia.apalagi pengalaman saya langsung terjun di
perusahaan MNC (multi national Company) yang base communication-nya pake english
whether speaking or writing.

Kaget? tentu saja, Pak.Gimana nggak kaget, dari seoarang mahasiswa lulusan
soroboyo yang bisa driven-language-nya jowo and Indonesia langsung mau nggak mau
ngomong cas-cis-cus english.
kalo masalah ngomong terus terang saya dulu belum fluent, jadi masih ketolong
dengan kedua tangan untuk mengisaratkan sesuatu (tarzan’s
language).allhamdullilah si bulenya ngerti juga walupun sambil
nyengir…hehehe.(kasihan dech gue).
Nah, nyang berat adalah masalah reporting.saya musti nulis pake
english.pekerjaan saya paling banyak adalah masalah reporting ( fresh graduate
biasanya di posisi supervisor). tapi memang saya diuntungkan sekali lagi, kalo
penulisan laporan itu nggak ada formatnya. jadi report saya (weekly, monthly and
semester) saya inserting gambar/lay out dan dikasih panah-panah penunjuk,
menginstruksikan/proposed/recomendated seerti broken, fracture, install, get new
etc…
jadi laporan saya banyak gambarnya, kaya anak TK menggambar….hihihi.

waktu berlalu, saya sedikit demi sedikit belajar english lagi dgn otodidak
(practical english).inget saya sama TKW-TKW yang dikirim ke abroad yang perginya
dapat ngomong ‘English Jowo’ tapi pulangnya bisa ‘english singapore’.Memang,
diakui orang indonesia itu ulet-ulet apalagi anak lulusan ITS (=pIntar,
Trengginas, Soleh).memang lulusan lain ok-ok seperti alumini UI,ITB,GAMA, tapi
lulusan ‘kita’ punya added value yang jarang dipunya alumni lain.that’s
Tringginas alias Ulet.Saya pernah ngobrol ama bule Amrik yang udah tahunan di
sini, dia bilang suka sama lulusan ITS dibanding yang kesebut diatas.dia bilang
kalo lulusan lain suka individual kalo kerja, kurang cepat/tanggap dan ulet
menyelesaikan masalah, kurang tahan underpressure, dan suka ‘kutu loncat'(=cepat
resign).
jadi,Memang kualifikasi untuk masalah bahasa, kita kurang jauh, tapi apa hanya
itu saja yang membuat seorang candidate gugur?apa nggak ada faktor
lainnya?(retorik buat Mas Andreas).

“Witting tresno jalaran soko kulino”.orang jawa bilang datangnya cinta dari
kenal. kalo kita kenal maka benih-benih cinta muncul, Katanya sich….
Alumni TL nyang meniti karier di bidang SHE (safety, Health, and Environmental)
awalnya pada posisi setaraf supervisor (level menengah), tapi karena bidang ini
specific dan lebih menuntut profesionalisme maka job description-nya hampir
setara Assisten manager atau malah manager.di perusahaan besar dan asing, posisi
di bidang ini, person in charge biasanya report directly ke general
manager/plant manager (top manajemen/decesion maker).maka, sekali lagi, masalah
bahasa (english/china/korea/japan dll) sepertinya ‘kudu’ buat kelancaran tugas
pekerjaanya.jadi di banyak perusahaan posisi di SHE ( apa itu di safety, health,
environmental) merupakan kursi terhormat.person di posisi lain umumnya sangat
respect pada person di posisi ini.
sebagai contoh,PIC di safety mempunyai kewenangan bisa menginterupt proses
produksi (bagian produksi) jika memang ada trouble masalah safety di sana, dan
ini memepengaruhi lainnya.atau seorang environmental bisa men-delay material
proses bila material itu terindikasi terkontaminasi hazardous waste atau stop
plant karena laju emisi activitas plant berbahaya untuk komunitas masyarakat (my
experience in Borneo Island).
Kadang bule nggak ngerti atau pura-pura ngak ngerti atas masalah lingkungan
(double standart,politics,firm capital,praktek tanam uang,dll)misalnya.Ini yang
repot, environmentalist umumnya sebagai perantara antara pihak eksternal
(Bapedal/da, pemda, masyarakat dll) dan pihak (top) manajemen.apalagi bila ada
claim atau sengketa masalah lingkungan.disini perannya sebagai interpreter
bahasa/liason/advisor/mediator antara masyarakat dan pihak perusahaan.

Sepertinya masalah bahasa memang merupakan bagian dari kehandalan
pekerjaan.entah itu ada AFFTA, GATT, atau lainnya, tapi yang pasti masalah
komunikasi (bahasa) mau nggak mau akan bersinggungan eh interseksi dengan profil
candidate.

sorry, jadi panjang….
jadi saya sangat setuju tanpa reserve kalo Pak Eddy mau mengadakan up grade bagi
mahasiswa di bidang bahasa (kalo bisa ditambahin work culture,Pak).
dan kalo ada komponen writing-nya dilebihkan.juga kalo bisa jangan suka-suka,pak
langsung aja di Obligate aja.biar mahasiswanya ‘bangun’, toch nyang merasakan
mereka juga nantinya.kalo mengenai student yang timpang kemampuan english-nya
tetap diikutkan aja, mungkin pake classes base on english ability-nya.Saya yakin
100% kalo anak-anak ITS cepat belajarnya.jepang bisa maju karena kemauan dan
kedisiplinan serta sistemmya yang keras.

Demikian dari saya, semoga bermanfaat bagi semua. bila ada kata-kata yang tidak
berkenan, saya Mohon maaf sebesar-besarnya sebelumnya.

Wassalam,

Andhi setyonugroho (Andhi)
Mantan TL angkatan’95

———————–

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] Re: English on elective subjects

Pak Eddy..
Saya juga setuju sekali.
Kebetulan saya kenal Manager HR&P D bagian recruiting
Caltex …
Beliau pernah cerita kalau lulusan Indonesia timur
(ITS, Unair dan UNIBRAW) baru banyak tersaring sejak
lulusan 90 keatas …

Sebelumnya selalu kalah dalam ujian Englishnya.

Kalau dulu UGM karena cuma satu2nya yang ada geologi

Kemudian ITB yang ada perminyakan dan pertambangan ..

Selain jurusan itu…selalu kalah dgn UI dan
sekitarnya di Jakarta ..

Sebab di Jakarta, masalah komunikasi dengan
menggunakan bahasa Inggris sudah menjadi suatu trend
yang tidak “wagu” lagi.

Berbeda dengan kita …
Di kantin misalnya …
Ngomong pake bahasa Indonesia saja…selalu banyak
orang bilang “hancik….podo jowone ae ngomong
planet..”
Dan itu juga sering saya alami waktu kuliah …
Apalagi pakai bahasa Inggris …dikira sok …

Trend di Indonesia timur …
Komunikasi global belum menjadi sebuah kebutuhan
mutlak …masih kalah dengan ego “jowo” kita
So …
Kalau salah satunya dicoba untuk dibawakan lewat
kuliah …
Saya pikir itu adalah suatu permulaan yang bagus …

Regards,

Andreas Krisbayu
HSE Officer
Imeco Inter Sarana
Tuboscope Vetco International – A Varco Company

—————————–

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] English on elective subjects
Assalamualaikum,
Sangat menarik usulan dari Pak Edot. Dan hampir semua yang masuk mendukung usulan tersebut.
Memang ada baiknya kalau bahasa Inggris digunakan sebagai nilai tambah, misalnya dalam perkuliahan-perkuliahan pilihan. Dulu bahkan dalam perkuliahan PBPAB, Pak Joni juga sempat mengadakan kuliah dengan bahsa Inggris. Barang kali juga patut dicoba kalau diberikan dalam asistensi-asistensi tugas…bukankah interaksi yang paling dekat antara dosen dan mahasiswa saat asistensi?
Hanya saja rasanya kok ada yang kurang sreg di sini. Memang ini bukan masalah nasionalisme, harga diri bangsa dsb yang rasanya memang sudah klise, tetapi tengok, bagaimana kita berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia banyak yang sudah melupakan kaidah EYD kok kita sudah mau mencoba “merambah” ke yang lain.
Bukan saya anti dengan bahasa Inggris, Jepang, Rusia dsb. Tetapi mengingat baha salah satu unsur kebudayaan adalah bahasa, bahwa dengan mencoba memasukkan bahasa lain ke dalam perkuliahan berarti kita harus bersiap pula ada unsur kebudayaan yang lain masuk. Belum lagi adanya keluhan akan “hegemoni bahasa”. Mengapa harus bahasa Inggris? Lepas dari persaingan yang pernah ada antara Perancis dan Inggris misalnya, orang Perancis akan menjawab dengan bahasa Perancis kalau sedang di Perancis. Kita selalu melihat bahwa bahsa Inggris selalu dibutuhkan, betul kalau kita berurusan derngan orang asing. Bagaimana dengan yang lebih banyak kontak dengan bangsanya sendiri, misalnya masuk ke pedalaman?
Memang usulan menarik lebih membumikan bahasa Inggris dalam pendidikan, tetapi mengingat pendidikan tidak hanya menjadi pelayan bagi kepentingan kapitalis, ada patutnya lebih berhati-hati dalam menerapkannya.
Wassalamualaikum,
Andik L-14
—————————–
Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] English on elective subjects
a trully excellent idea.what if u ask ur `little brother or sister (gee…isn`t this sweet?) about having a lecture in english.it`s tough.i think it takes lot of time to prepare myself. i do really -really realize it`s an excellent idea.i know how important english is. in fact, my `dosen wali`, bu ellina, made me promise her that i`ll have an english course.cos my english is suxx (is `suxx` rude?if yes, then i`m sorry).but it`s hard.specially d grammar.
how`s my english? not bad ?but…whatever will be,will be.
i wanna say hi to all my senior, teacher, especially Mrs.Ellina
bella L-19
——————————————
Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] English on elective subjects
It’s very good idea. Well, I remember when I was in campus, that many of my friends didn’t expert in engllish and they had very serious problem when read the english book for the first time. and I have the trouble too. especially when read the speciall vocabulary of env. eng. It made me very confused then. Hehehehehe….so…It’s hard for me to understood the meaning of the knowledge. Well I just want to share and I’m sure that there are still some of the student, especially the new ones have the difficulty of understanding the lecture.
By the way, aku ada usul, gimana klo lagi opsek hal ini juga diajarain ke mahasiswa baru. Supaya jangan sampai saat baca buku water supply dan ada istilah ‘head’ mereka pikir itu kepala…..konyol kan. Aku rasa hal ini akan sangat membantu dalam proses pemahaman materi. Apalagi (maaf, bukan bermaksud menyinggung) jika semasa sekolah smp atau sma ada didaerah dan tidak punya kesempatan utk memperdalam bahasa inggris apalagi bhs inggris di TL istilahnya lumayan banyak.
Oke deh segini aja. Semoga bisa menggugah hati pengurus HMTL ataupun para senior yg lain.
Agatha, L-10
———————–

ttg bahasa

Maafkan saya bila terlambat menanggapi diskusi ttg rencana pemakaian Bahasa Inggris dlm perkuliahan.

Beberapa bulan yg lalu, saya ngobrol dgn salah seorang ibu dosen kita di kampus. Beliau mengeluhkan pemakaian Bhs Indonesia yg kacau di dlm tugas-tugas maupun laporan KP dan TA. Jadi setiap kali mengoreksi laporan, jadi suntuk sendiri, bukan krn intisarinya (belum), tapi pandangan pertama pd kalimat dan apa yg tertulis. Menurut beliau, kalimat yg disusun tdk sesuai dgn platform : S P O K, mahasiswa/i cenderung menyusun kalimat yg tdk ada “juntrungnya”, tanpa arti, mbulet dsb. Pemakaian kata depan (sbg bagian dari EYD) juga banyak yg salah, kalimat cuma dilihat dari awalan huruf besar dan diakhiri dgn titik. Entah semua itu disengaja (krn ngerjain-nya terburu-buru, belum sempat dikoreksi ulang) ataukah mahasiswa/i tdk mengetahui pakem EYD ? Mungkin Pak Edot & Pak Joni juga mengalami hal sama ?

Yach tdk dipungkiri kemungkinan besar saya juga termasuk dlm golongan di atas.

Dari situlah beliau ingin mengusulkan penambahan mata kuliah Bahasa Indonesia pd kurikulum TL yg akan datang.

Kalau boleh saya berpendapat bahwa sebenarnya pelajaran Bhs Indonesia mulai dari SD sampai SMU sudah cukup, namun masing – masing dari kita seharusnyalah mempunyai kesadaran bahwa teori yg didapatkan bukan hanya utk mencari nilai, tapi diamalkan dlm keseharian (juga dlm mengerjakan tugas2).

Pd tahapan SD, dasar yg kuat dan kokoh harus ditanamkan (dlm berbagai segi, termasuk pemakaian bahasa yg baik dan benar). Namun kecenderungan yg ada, saya melihat dari bbrp murid salah satu SD swasta di Pucang, pemakaian EYD belum semuanya benar, bahkan dlm mengerjakan PR Bhs Indonesia sendiri (trtm mengarang). Kalaupun diingatkan, jawab mereka: “Wong bu guru sendiri ngga’ nyalahin kok!” . Kalau sudah begini bagaimana hayo ??? Semoga murid yg lain tdk spt itu (Amin…)

Saya ingat pas SD dulu (SD saya di desa), aturan penulisan benar-benar ”ditegakkan”. Apalagi SMP, wuah…..lebih ketat lagi. Saya beruntung memiliki guru yg baik, tapi ya sampai sekarang -kadang-kadang kalau ngga buka sari kata, ada yg terlupakan.

Ada baiknya memang kita belajar bahasa asing, terutama Bahasa Inggris, tetapi ya mbok yo’o masih apal dan mengamalkan EYD tsb, mosok boso’e dhewe dilalekno! : >

Yaa…itu semua tgt dan kembali pd pribadi masing – masing. Kalo bukan kita yg mulai, lalu siapa ???????

Saya dapat info, bahwa dari hasil Konferensi Johannesberg (maaf kalo sebutannya salah) menyepakati semua penduduk dunia pd tahun 2015 sudah harus mendapat pelayanan air siap minum (tap water). Jadi nantinya ada unsur ”tolong – menolong” antar negara / organisasi keuangan untuk mewujudkan hal tsb. Siapkah Indonesia ???

Buat Andik ’96, met ultah sam!

Moga karirnya lancar, seger waras, n cepet nikah. Aminnn… Undangane ta’ enteni lho…..:P

Salam Penghuni H 304 A

Intan ‘96
——————————
Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] ttg bahasa
ikut komentar dikit.
disini kita kalo menulis thesis/karangan ato apapun, ada student service khusus untuk mengoreksi laporan kita (tanpa biaya disediakan sekolah, ada juga penjual jasa semacam-dgn biaya-) dalam masalah bahasa/tata bahasanya. bagaimanapun juga bahasa yang bukan bidang keahlian kita, memang bagus jika kita bisa benar2 menguasainya, tapi akan sangat menolong jika ada bantuan dari student service semacam utk membantu mengoreksi.
dosen disini akan sangat maklum dengan penguasaan bahasa murid ‘asing’ dalam komunikasi, presentasi maupun penulisan laporan, bukan pula berarti murid ‘lokal’ dapat dengan lancar menuliskan laporannya, karena memang susah untuk dapat mengekspresikan penelitian ke dalam kata2. tidak sedikit murid ‘asing’ yang lebih memperhatikan kaidah berbahasa daripada murid lokal.
Kembali ke pengalaman pribadi jaman sekolah, saya paling sedih dengan adanya ‘mengarang’ (essay), karena memang bukan bakat saya. Saya sadari memang sedikit banyak bermanfaat at the end of the day. Tapi mengarang itu salah satu ‘nilai jatuh’ saya. Kalopun ditambah lagi kursus bahasa intensif, mungkin berpengaruh untuk menambah skill, tapi jika hanya regular, bisa2 menambah nilai E saya😦.
Kalo dirasa perlu mungkin ada baiknya hima TL mengumpulkan mahasiswa yang ‘mumpuni’ dalam hal berbahasa supaya dapat membantu anggota lainnya dalam pengerjaan laporan2 dan semacamnya.(atau ada yang melihat ini sebagai ‘peluang bisnis’? monggo…)
salam dari melben
Agusta
————————————
Re: ttg bahasa
melok nimbrung,

ketidakpatuhan thd EYD dlm penulisan TA/KP memang memprihatinkan.
saya sendiri masih ingat ketika menulis laporan TA, saya banyak
mengambil (comot) langsung dari sumber penelitian/TA terdahulu.
istilahnya ‘mbacem’ dengan cara copy-paste, yg penting saya
menyebutkan sumbernya, aman. kalimat berpola S P O K belum saya
perhatikan karena menurut saya penulisan TA sangat sulit membuat
kalimat yang pas, simpel dan sesuai dengan kaidah struktur bahasa.
tetapi dalam pengetikan saya mengupayakan utk menerapkan EYD yang
saya ketahui. saya lihat teman2 yg lain malah lebih amburadul lagi
dlm pengetikan. malah sering kali teman2 meminta saya utk membantu
mengedit TA mereka.
contoh:
1. pertanggungjawaban, sering ditulis pertanggung jawaban <diapit
oleh imbuhan hrs disambung>
ketidakmampuan, —- !! —– ketidak mampuan
2. di samping itu, —– !! ——- disamping itu <menunjukkan tempat
hrs dipisah>
di bawah ini, ——- !! ——- dibawah ini
3. ditunjukkan, —— !! —– di tunjukkan / ditunjukan

contoh yg sering adalah penggunaan kata :di mana
1. menulis rumus, misalnya: E=mc2 lalu di bawahnya ditulis dimana
<penulisannya disambung bukan di mana> E=energi m=massa C=kecematan
chy dst. padahal menurut EYD, di mana, itu mestinya utk kalimat tanya
seperti: “di mana rumahmu?” ini akibat dari transfer langsung dari
bhs Inggris, where.
2. kalimat:”pengolahan limbah di PT Amburadul dilakukan secara
aerobik dengan sistem Oxydation ditch dimana supply oksigen
menggunakan Mammoth Rotor.” mestinya:” PT Amburadul melakukan
pengolahan limbah secara aerobik menggunakan Kolam Oksidasi yang
dilengkapi dengan Mammoth Rotor sebagai menyuplai oksigen.”

di kalangan dosen juga sangat sedikit yang memperhatikan tata bahasa
dalam membimbing TA mhs. mungkin masih 1-2 orang saja yg betul2
memperhatikan & mengoreksi ejaan/penulisan/struktur kalimat dalam
laporan KP/TA.

usul utk menyelenggarakan kuliah B. Indonesia mungkin perlu. tapi
perlu dipikirkan juga krn 12 tahun belajar B.Indonesia (SD-SMP-SMA)
toh, kita masih melalaikan penegakan bahasa yang benar. menurut saya
yg diperlukan di kampus adalah seminar/workshop/pelatihan B.
Indonesia yg pesertanya tidak hanya mhs tapi dosen juga. tinggal
penegakannya saja, krn pada dasarnya kita cukup menguasai. seperti
contoh: mata kuliah B. Inggris (sekarang masih ada apa tidak ya?)
walaupun ada mata kuliah B. Inggris (juga sejak SMP-SMA) toh masih
kurang juga penguasaan kita, tetapi ini mungkin lain krn B.Inggris
bukan bhs Ibu.

ttg penggunaan bhs di milis ini, sesuai dgn motto bebas tapi sopan,
maka tidak ada pembakuan apapun dlm penulisan. mo English kek, mo
Suroboyoan kek, mo bhs Tarzan (mungkin khusus buat mas Lukito dan
rekan2 yg tinggal di pedalaman sono hehehe…) atau campu aduk nggak
karuan monggo, silakan, up2u. asal bisa dimengerti dan tetep menjaga
kesopanan, krn milis ini lintas angkatan, lintas warga TL, lintas
budaya, lintas agama de el el.

mohon maaf kalo ada kekeliruan.
salam dan tetaplah menulis,

Aduh

—————————————

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: