TEKNIK LINGKUNGAN ITS’s Weblog

Blog Komunitas Teknik Lingkungan ITS Surabaya

Akar Sejarah Teknik Lingkungan

Posted by HUDA L-13 pada 13 Juni 2008

Default Akar Sejarah Teknik Lingkungan

Kalau kita sering mendengar dengan Jurusan Teknik Lingkungan, baik di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Indonesia (UI), maupun Institut Teknologi Bandung (ITB), maka biasanya kita secara sekilas akan mendeskripsikan dengan berbagai permasalahan lingkungan. Memang benar, Teknik Lingkungan adalah sebuah program studi yang berusaha untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan dengan pendekatan teknologi. Artikel ini akan mencoba mengupas secara singkat sejarahnya.

Teknik Lingkungan sebenarnya relatif baru di bidang keprofesian, namun dengan sejarah terbentuknya yang cukup panjang. Gelar, atau titel “Insinyur Lingkungan” atau “Sarjana Teknik Lingkungan” sebenarnya tidak pernah ada hingga tahun 1960 di US, ketika saat itu beberapa program akademik di bidang teknik (engineering) dan kesehatan masyarakat (public health) mencoba untuk berekspansi ruang lingkup studi mereka, dengan tujuan mendapatkan titel yang lebih spesifik menyesuaikan dengan program studi, pelajaran dan material yang ada. Diharapkan perbedaan antara Insinyur Lingkungan (Environmental Engineer) dengan Insinyur Kesehatan Masyarakat (Public Health Expert) serta dengan cabang teknik lain dapat menjadi jelas.

Bagaimanapun juga, teknik lingkungan tidak dapat dipisahkan dari akar sejarahnya, ketika sebenarnya akar dari teknik lingkungan itu melibatkan banyak bidang keilmuan yang lain, sebut saja, teknik sipil, kesehatan masyarakat, ekologi, kimia, serta biologi, geologi dan teknik mekanik, 3 terakhir yang disebut dalam beberapa hal keteknik lingkungan dapat dimasukkan. Di US, meteorologi dikenal juga sebagai salah satu faktor akar dari teknik lingkungan. Walaupun demikian, teknik sipil dan teknik kimia secara luas diakui sebagai unsur pembentuk teknik lingkungan.

Jika kita memperhatikan di beberapa negara, seperti US, negara-negara Eropa, seringkali teknik lingkungan terletak di bawah bagian teknik sipil, yang mana materi perkuliahannya adalah kombinasi bidang sipil yang bergerak di bidang lingkungan. Jepang, Taiwan atau Malaysia, adalah contoh negara yang seringkali teknik lingkungan berada di bawah bidang teknik kimia. Ini terkait dengan beberapa aspek dalam teknik lingkungan yang juga mempelajari reaksi-reaksi kimia, struktur, proses, kimia lingkungan serta berkaitan dengan kimia air.

Di Indonesia, seperti kita ketahui, ambil contoh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Jurusan Teknik Lingkungan berada di bawah Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Walaupun materi teknik lingkungan mempelajari baik bagian kimia maupun sipil, namun kecenderungannya teknik lingkungan dititikberatkan ke arah perencanaan sipil, sebagai contoh PBPAM (Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Minum) ataupun PBPAB (Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan). Jurusan Teknik Lingkungan sendiri sebelum tahun 1982 bernama Teknik Penyehatan Masyarakat. Akan tetapi karena perbedaan yang jelas arah tujuan dua program studi ini serta terkait dengan sumber daya manusia, maka jalurnya diarahkan ke program studi Teknik Lingkungan, selain juga karena faktor adanya Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Airlangga.

Dari dasar-dasar ini, keprofesian teknik lingkungan mewajibkan pengetahuan, skill, loyalitas dan dediaksi serta profesionalisme untuk membawa lingkungan kita ke arah yang lebih baik.

sumber :

Posted in teknik lingkungan | Leave a Comment »

(Standardisasi) tanggapan untuk pak Ardi

Posted by HUDA L-13 pada 12 Juni 2008

——————-arsip milis t-lingkungan-its bulan Oktober 2003——————-
(Standardisasi) tanggapan untuk pak Ardi
O alah pak Ardi, ya sorry.
Tadinya saya bermaksud menanggapi lowongan yang dikirim Aliem, yang mensyaratkan 1 orang tapi harus menguasai 3 standard sekaligus. Ya baiklah, biar aku bisa belajar jadi dewasa kaya mas Tri (saiki sik pancet ae pak, pancet urakan lan mbeling wae…durung nikah se…hihihi), saya coba men-summary-kan sedikit (judulnya tak ganti standardisasi ya pak, biar tertib alur per-milisan TL ini).
Begini pak Ardi,
Sekarang ini untuk memudahkan suatu perusahaan dalam mengukur kuaitas baik pekerjaan, lingkungan maupun kontraktor2 yang bekerja dibawahnya, maka berkembang suatu standardisasi internasional, misalkan ISO (Nb: ini terlepas dari sikap saya apakah saya pro/kontra dengan isu globalisasi).
Ini bukan cuma minyak, pak. Tapi untuk seluruh jenis industri. Hanya memang minyak dan gas dijadikan barometer dalam pengukuran kualitas karena standardnya yang tinggi.
Contohnya begini nih pak, misal ada perusahaan A punya proyek di B. Otomatis B harus mengontrol kerjaan si A supaya memenuhi apa yang disyaratkan si B. Menurut B, perusahaan A bernilai plus. Nah ketika si A ikut tender di C, ternyata A dinilai minus, nah berarti penilaian ini kan subyektif…………
Supaya ada kriteria baku, maka lahirlah standar.
Banyak institusi2 besar di Eropa dan Amerika yang berkumpul untuk membakukan sebuah standar (saya tidak membahas permasalahan kepentingan politis di balik itu). Nah, untuk Standar Mutu/Kualitas, ISO lah yang diakui oleh dunia, makanya standardnya ISO yang banyak laku.
Untuk Quality Management, lahir seri2 ISO 9000, untuk Environmental Management lahir seri2 ISO 14000. Nah, di lowongannya Alim, menyebutkan ISO 18000 untuk Quality of Health, Safety and Environmental, ini yang saya sangkal.
Ceritanya kurang lebih begini:
Yang diakui oleh dunia untuk HSE, sampai saat ini masih OSHA dan OHSAS, salah satunya OHSAS 18000. Tetapi kecenderungan di industri2 besar saat ini, tren beralih menjadi satu per-merger-an, antara ISO 14000 dan OHSAS 18000 dimana salah satu goal “Zerro polution” nya ISO 14000 dan “Zerro Accidet”nya OHSAS 18000 dicoba digabungkan untuk mencari objective target yang lebih bermutu, dikarenakan ternyata pollution merupakan salah satu penyebab accident. Makanya perusahaan2 seperti Caltex (yang saya tahu), Environmental Protection department malahan ada dibawah HSE Corporate Dept.
Dengan kata lain, kalau kita belajar ISO 14000, itu malah jadi sebagian dari bidang HSE.
Keinginan untuk mewujudkan Environmental di bawah HSE, ditanggapi OHSAS dengan mendaftarkan salah satu seri standardnya, yaitu 18000 untuk menjadi standard ISO, ya jadinya ISO 18000 begitu. Namun sampai detik ini, secara resmi menurut BSI (British standard) yang dianggap jubir-nya CEN (Standardisasi komite-nya eropa), OHSAS 18000 belum diterima menjadi sebuah standard ISO. Nah makanya kalau di lowongan nya Aliem menyebutkan harus tahu standard ISO 18000, itu salah.
Begitu pak Ardi.
Mengenai kenapa harus merger, kenapa ISO begitu menginginkan satu standard saja antara ISO 9000 dan 14000, nanti saja, sementara saya menunggu masukan dari teman2 lain yang lebih mengetahui ini.
Terimakasih.
rgds,
~Iwoel
———————————
ISO
Cak Hud, Phien, tak jawab sak ngertiku yo,
trus tak cc nang milis tl, ben ono sing nambahi…

Pada dasarnya ada 2 lembaga, 1 lembaga akreditasi dan 1 lembaga sertifikasi.
Itupun ada yg luar dan ada yg lokal.

Lembaga akreditasi berhak untuk melakukan akreditasi terhadap lembaga
sertifikasi, juga berhak untuk memberikan sertifikasi pada perusahaan.
Sedangkan lembaga sertifikasi hanya bisa men-certified perusahaan saja.
Kebanyakan lembaga akreditasi berada di Inggris, karena memang ISO
berkembangnya disono.

Lembaga akreditasi misalnya UKAS, RvA, BS, SGS, dll.
Sedangkan lembaga sertifikasi misalnya DNV, Sucofindo, KEMA, dll.

DNV, KEMA, dll, sebelum dia memberi sertifikasi, dia harus diakreditasi dulu
oleh accreditation body seperti UKAS, RvA, dll.
Kalau DNV oleh RvA, kalau Sucofindo oleh SGS, dll.

Nah, kalau perusahaan kita minta sertifikasi ISO 14000 misalkan, yang kasih
sertifikasi RvA,
maka dalam logo ISO 14000 ada logo RvA.
Tapi kalau kita disertifikasi oleh DNV, maka akan ada 2 logo, yaitu DNV dan
RvA sebagai accreditation bodinya.

Sedangkan kalau lokal, kita punya namanya KAN (Komite Akreditasi Nasional).
KAN mengakreditasi lembaga lokal kita yaitu BSN (Badan Sertifikasi Nasional)
untuk memberikan sertifikasi sekaligus mendesign
standar yang akhirnya bernama SNI (Standar Nasional Indonesia) (lihat di
http://www.bsn.or.id)

Kita memang tidak harus mendaftarkan sertifikasi kita.
Tapi untuk kepentingan bisnis, seharusnya sih didaftarkan saja.
Kalau kita pakai BSN, maka kita bisa mendaftarkan sertifikasi kita kesitu,
jadi sekalian jadi daftar nasional.
Cuma kalau pakai luar, kayaknya ke Kadin mungkin yah…
Cuma tergantung bidangnya sih,
Kalau ditempatku karena industri MIGAS, jadi yah langsung didaftarkan ke
MIGAS, jadi sewaktu ada pengklasifikasian perusahaan, perusahaanku bisa
untung karena “grade” nya naik karena telah ter-sertifikasi.

Nah, misal kita pakai badan sertifikasi seperti DNV.
kalau kita nggak puas karena mereka kurang profesional, kita bisa lapor ke
RvA sebagai lembaga akreditasi mereka.

Kalau perusahaan kita pakai Accreditation body untuk sertifikasi,
wah…mahal.

Biasanya sih perusahaan Indonesia banyak pakai SGS, karena lumayan murah dan
berkualitas.
Kalau PMA, biasanya pakai DNV, karena even mereka cuma certification body,
tapi DNV sudah dikenal menghasilkan beberapa standar mutu yang salah satunya
banyak dipakai di Industri secara technical. (Salah satu aturan2 audit,
kalau ISO kan pakai ISO 19011, nah standar DNV malah sudah diaplikasikan
untuk PSE/Process Safety Engineering yang kompatibel dengan ISRS dan malah
sudah melahirkan Modern Safety Management yang akan menyaingi OHSAS 18000)

Atau kalau bergeraknya cuma lokal aja, kenapa gak pakai BKI, atau Sucofindo,
yang penting dapet kan.

Tapi juga demi kepentingan bisnis, meskipun lembaga2 sertifikasi luar
seperti KEMA, DNV dll yg ada di Indonesia, untuk bisa beroperasi mereka juga
harus diakreditasi oleh KAN loh. Jadi sebaiknya cari lembaga sertifikasi
luar yang telah diakreditasi oleh KAN, jadi setelah dapet sertifikasinya,
kita bisa ndaftarin sertifikat kita ke BSN.

Info lebih lengkap, please visit url below:
http://www.bsn.or.id/conformity-ind.htm

Mungkin ada yg mau nambahin lagi. Maturnuwun.

Iwoel
L-13/54

—————————————-

Posted in 2003 | Leave a Comment »

ternyata kebingungan tidak dialamai TL saja – forward

Posted by HUDA L-13 pada 12 Juni 2008

——————-arsip diskusi milis t-lingkungan-its bulan Agustus 2003—————-
kiriman mas Taufik 93
FYI
Subject: [Teknik-Kimia] Re: Insinyur Teknik Kimia “Akankah masih
dibutuhkan?”

Dear All,
Saya mungkin juga salah satu yang alumni teknik kimia yang bingung bahkan
kadang2 menyesal dengan bidangnya. Sudah berkali2 saya pindah pekerjaan
bak
kutu loncat, mulai dari jadi buyer di perusahaan elect, engineer pabrik
trafo, bahkan yang terakhir ini saya jadi QA di Perusahaan web design.
Saya
jadi bingung sendiri. Sementara lowongan yang banyak untuk seorang
Engineer
Teknik Kimia lebih banyak mencari Laki2 kecuali untuk tenaga2
laboratorium.
Tetapi perlu diingat, Seorang lulusan teknik kimia (fresh graduate) akan
kalah lincah di suatu lab dengan lulusan SAKMA ataupun AKA, itulah mengapa
perusahaan lebih menyukai lulusan AKA ketimbang teknik kimia. Sampai saat
ini banyak sekali teman2 wanita saya yang blm mendapatkan pekerjaan karena
ingin bertahan di bidang nya. Mungkin saya hanya akan meminta saran kepada
rekan2 apakah yang harus
saya lakukan tetap mencari bidang teknik kimia ataukah bertahan dijalur
yang
sudah saya lakukan, sementara saya telah menempuh kuliah dan praktikum
yang
lumayan lama. Haruskah semua itu saya sia2 kan karena keterbatasan lahan
pekerjaan. Lantas bagaimana nasib rekan2 saya yang lain yang hingga kini
blm
mendapat pekerjaan. Haruskah mereka juga membelot dari bidang ini seperti
halnya saya.
Terima kasih atas saran dan masukannya
shanti

—————————-

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] Re: ternyata kebingungan tidak dialamai TL saja – forward

Cuma ikutan nimbrung ….

Teman2 …..
Sak ngertiku ……
Competency means:
1. Education
2. Skill
3. Experience
4. Training

Biasane arek2 sing tau melu kursus ISO yo ngerti …nek aku mung ngerti2-an
wae ….

Nah …..apa yang kita bangga2kan……yang namanya mentereng bgt
…..katanya baru dapet nilai masuk UMPT paling bagus di
FTSP….yaitu….”TEKNIK LINGKUNGAN – FTSP – ITS” ……..itu cuma kena di
yang nomer 1….education ……

Apapun kuliahnya …… menurut beberapa standard international ….jelas2
menyebutkan :
Bachelor Degree + 1 year experience = Diploma + 2 years experience = Senior
High School + 5 years experience
(See standard2 seperti ASTM, NACE, API, ASNT, DS, dll yang banyak memberikan
sertifikasi…)

Nah…
Kalau kita cuma membanggakan ijasah ……ya….cuma dapat poin di nomer 1
aja to yo………
Training butuh bondo…….nek nduwe ……..
Skill …..yo iku yang dimaksud dengan pendidikan2 keahlian ……koyo
akademi …..
Experience……lha nek pertama kerjo njaluk langsung enak….yo…matio
ae…….melok ae nang perusahaane mbahmu……

Semua ya harus kerja keras….bondo nekat….berani menghadapi resiko….gak
nangisan…gak nggondok’an….
Lha nek IP ……ya bolehlah dibanggakan…pas ndaftar ae…..nggo ngebek2i
surat lamaran..ben lolos kualifikasi …..
tapi yo iku gunane IP dhukur…..mung nggo mlebu kriteria paling
awal…maringono….yo gak kacek….

Coba pak Huda …
Takono mas2 sing tau ngekei lowongan nang arek2 ….
kadang malah ngenes….males….soro2 ngekek’i….gak ono tanggepan…..
Saiki ……podho ngeluh butuh kerjoan ….
Gak habis pikir aku…….arek2 sing podho ngeluh iku butuh….ning
sombonge….ampun2……..(butuh…tapi sombong…dipateni wae piye….?)

Dadi…
Nggo arek2 sing sik tas lulus……
Wake up boys and girls …..
Jangan dibuai oleh toga dan IP tiga moe……….
Gak ngefek cuk !!!!!!…..gak kacek !!!!!!!…….

Bakti kampus kedua di depan mata…..
Nek ndhisik cuma sak semester…
Saiki 1 sampe 2 sampe 3 mungkin sampe selama2nya…tergantung kalian bisa
melaluinya gak …
Yo iku….kerja pertama…tanpa pengalaman…gaji cilik….dituntut
kawin…lan sapanunggalane…
Nek gak iso melalui…gak nemu dalane….yo nasibmu…dengan IP
tigamu…….
Ndhelengo matamu….mas2 mu yo akeh sing iso…….meski ndhisik yo podho2
soro…….

Dadi….
Terkutuklah orang2 yang mengharamkan bakti kampus…..
Karena merekalah yang bikin lulusan2 muda berbakat jadi mampus….

Maturnuwun cak Huda….

Regards,

~ Andre Iwoel
L13 / 54

————————————————-

Re: ternyata kebingungan tidak dialamai TL saja – forward

dear all,

kebingungan memang manusiawi dialami oleh siapa saja terutama dlm
masalah karir dan jodoh.

menurut saya, bekerja di bidangnya atau tidak itu bukanlah persoalan
utama dlm bekerja. krn yg terpenting adalah enjoy apa tidak kita dlm
bekerja tsb. kalopun gak di bidangnya tp kita enjoy, akan membawa
kita ke hasil kerja yg maksimal. sering kali malah orang yg tadinya
merasa “kesasar” ke luar bidangnya malah sukses di bidang baru yg
ditekuni dgn baik.

enjoy tdk bisa diukur dari besarnya gaji/fasilitas yg diterima dr
perusahaan. enjoy kita dptkan dari bagaimana kita menyikapi, merasai
dan menjalankan kerjaan dgn tulus ikhlas krn dilandasi suatu
keyakinan bhw usaha yg kita lakukan di pekerjaan telah kita
maksimalkan tinggal rejeki yg ngatur adalah Tuhan. kalo kita selalu
kurang puas, itupun wajar asal ketidakpuasan itu bukan krn materi ttp
krn pengabdian atau kreatifitas kita yg blm maksimal kita terapkan di
pekerjaan yg sedang kita geluti. kalo ukuran kita materi, tentu tdk
akan ada puas2nya. begitulah manusia…

jadi, semua itu tergantung bagaimana motivasi diri kita. krn setiap
kita diharuskan menjadi berguna utk orang lain di BIDANG APAPUN.

buat yg lagi bingung cari kerja (khususnya mbak Heni 99), selamat
menikmati masanya berbingung-bingung ria. anggap saja itu suatu fase
kehidupan yg memang hrs kita lalui dan hadapi. yg penting, maju terus
pantang mundur. never give up!!

wah, kok jadi sok menasehati gini. hehehe…

setelah kebingungan cari kerja tinggal kebingungan cari jodoh nih…
mungkin ada rekan2 yg mau share ttg kebingungan yg satu ini, yg
notabene masih saya alami hehehe…
maaf kalo ada yg kurang berkenan. ini hanya sekedar sharing aja…

tambahan lagi, omongan mas Iwoel bisa juga jadi masukan buat kita
semua.

salam dan tetaplah menulis,

aduH L-13

——————————–

Re: ternyata kebingungan tidak dialamai TL saja – forward

Hehehe..setuju karo Cak Iwoel..plus setuju juga karo Cak Huda,
Seneng aku ono sing nulis koyok Cak Iwoel.

Buat arek-2 sing neng kampus,
Tolong yo…arek2 sing tas melbu iku digembleng,
biar kreatif, ulet, solid, kompak dan bermental baja.

Salam,
Tenno Sing-Galang.
L-8/ 1990

—————————

nomor 3, menanggapi mas Andreas Krisbayu

Wadduuuhh,,,marah terussss !!!!!! maaf ya pak andreas,,,jadi naikkin
darah yah pagi-pagi gini pas mau mulai kerja di tempat kerja,,

Bukan maksud langsung enak begitu bapak !! dicoba sih
udah,,,,banyak ,,,, barangkali saja ada yang punya lowongan dan butuh
tenaga fresh graduated seperti kami-kami ini. Pastilah kami tidak
berani melamar yang meminta experience nya banyak ( 2-3-4
tahun ) ,,,kami juga mengetahui kapasitas kami,,,
dah pernah coba pula di Caltex perusahaan bapak,,dulu saya KP ditrima
tapi kami pas ada UAS,,jadi tidak jadi,,sekarang cari kerjaan juga
ditolak he he he ,,,,

Setiap sumber daya SDM seperti kami pasti ada nilainya, meskipun
kecil dan tidak terlihat,,,,seperti di t4 kerja mas Tenno,,,sumber
yang paling berharga adalah tenaga kerjanya, apalagi wanita yang
jarang sekali ,,kami juga akan berusaha bapak !!!!!1 eh
mas !!!!!!,,,,,

masih marahkah? ….

Maaf ya !!!!

Terima kasih pula telah mengingatkan kami,,,kami jadi tau bapak dan
kakak – kakak yang udah kerja seperti apa maunya,,,,jika berkenan
meng hire pegawai baru,,,seperti kami.

Heni
L-17

———————–

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] nomor 3, menanggapi mas Andreas Krisbayu

Lha dalah….
Mas Tenno diceluk mas…aku kok malah pak …piye tho …..cah iki?
Aku sik angkatan 95 …..!!!!!

Salah kalau gak berani melamar ……
kadang2 perusahaan2 juga seenaknya nyantumin experience berapa lama…..
Sing penting bondo nekat…dan fokus…….

Bener katanya mas …(mboh sopo…aku lali)…
kalau TL itu nyaris seperti TI ……mungkin bisa dibilang environmental
management….
terlalu banyak…….lebar tapi dangkal……

Nah…..tergantung kitanya yang mau ngembangin kemana ……
Kalau tren yang dulu2 pasti kebanyakan di water treatment dan waste water
……

Sekarang beberapa orang udah coba ngembangin ke yang lain ……

Sing penting nekat ……
(banyak loh …untuk cewek..posisi community relation officer…..yang
ternyata di dalamnya isinya implementasi aktual ilmu TL….
bikin pengolahan air di desa2 ……bikin pengawasan lingkungan buat warga
sekitar..mirip kayak cara kerja LSM…yang malah diisi anak2
sosial………abis…kita gak pernah menjamah ….biasanya di perusahaan2
besar yang beroperasi di satu tempat dalam waktu lama…seperti
freeport….coba tanya mas Tenno…atau Total…coba tanya Tuti/97…kita
mungkin udah terpatok…kalau TL pasti lowongannya ya
itu2….padahal….bisa jadi tiap perusahaan punya nama sendiri untuk
jabatan tertentu …seenaknya dia mau kasih nama….)

So…open u r mind….
Change u r paradigm ….

Apalagi dengan semangat boneknya arek ITS…
berwiraswasta adalah peluang yang besar…menantang..dan pasti berakit2
kehulu berenang2 ketepian dulu…..gak langsung enak…

Kalau kamu ngaku anak ITS …..
Jangan harap mendapatkan pujian….nasehat2 lembut….sampai nangis2…
Tapi kami akan memberikan persoalan…dan makian………(BK
maneh…)..untuk dihadapi dan diselesaikan ……
Bukan mimpi2…melainkan realita…….
Dan bukan ITS kalau kalah sebelum bertanding …….

Ngoten loh dik …..

Nb.
Aku mbiyen karo mas Tenno..trus mas Aan…trus sampai mas Fajar…Arif ….
wis judeg yo’an….dipisuhi….dijancuk2 no …….
wis waleh2…..sampai kebal …dan ternyata semua persoalan dapat tak
selesaikan dengan sendirinya….setelah tuwuk dipisuhi ….
Aku ngomong Inggris pada saat pertama aku mau belajar bahasa
Inggris……(maklum…gak onok bondo nggo les)
Aku disuruh nyetir mobil pada saat aku pertama kali mau belajar mobil
……(maklum…ndhisik sik mlarat…)
Aku melakukan tugasku pada saat aku baru pertama kali melakukannya…
Gak pernah ada yang ngajari…yang nyiapin …..
Tapi banyak yang membantu aku untuk berani menghadapi persoalan..seberat
apapun..bukannya lari dan bersembunyi…akhirnya semua lewat ….berkat
pisuhane mas2 kuwi ….

Dadi ….saiki giliran aku sing misuh2 …..ngerti gak CUK !!!!!!!!!!!!!

Rgrds,
Andre Iwoel
L13-54

———————–

Posted in 2003 | Leave a Comment »

City utilities di Malaysia

Posted by HUDA L-13 pada 12 Juni 2008

—————arsip diskusi milis t-lingkungan-its bulan Juni 2003———————
City utilities di Malaysia
Pak Edot,
Sebenarnya bagaimana sih perkembangan hal-hal yang berhubungan dengan Teknik Lingkungan di negeri jiran Malaysia (air bersih, pengelolaan persampahan dan pengelolaan air buangan)?
Terus terang saya buta dengan perkembangan di negara tetangga kita ini. Kalau masalah kebersihan sudah pernah dengar, tapi yang di atas kok kayaknya belum….Apa kita jauh tertinggal?
Matur nuwun.
Andik

———————————————-

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] City utilities di Malaysia

yth p edot,

tambahan pertanyaan buat p. edot, bagaimana urban management di sana (di KL or malay), mungkin dari perencanaan awal, anggaran/budget, keterlibatan/partisipasi swasta dan masyarakat dlm proses perencanaan dan pelaksanaan , mungkin juga sosialisasi program dari pemerintahnya? trus klo ada bagaiman implementasi dari semua itu.. etc..terima kasih sebelumnya

salam,

tri maulana-jak

nb. alamatnya pak edot dimana ?

--------------------------------
Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] City utilities di Malaysia

Pak Tri Maulana,
Anda tanya pak Imam Krismanto saja (1980)! Kita perlu
workshop untuk menjawab pertanyaan Anda! Banyak orang
pinter di RI, termasuk kalian semua alumni TL. Cuma begitu
bicara birokrasi, jebol semua lah design PBPAM, SDAM, dst.
Enaknya pemerintah ini diapakan aja ya!
Kerja di swasta juga serba sulit, sebab policy tetap ada
di Pemerintah. Kecuali kita menanggalkan etika, nah itu
bisa lain! Kita bisa makan apa saja…he..he (kecut!)
Please pray to God for his forgiveness
Have a nice weekend
edot

————————

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] City utilities di Malaysia

Mayday, mayday,
Gitulah ceritanya kalau tanya utilitas di Msia vs RI!
Oti jangan ikut nimbrung lho! Sebab kalau dibandingkan dg
Australia, ya ndak banding lah!
Mereka sudah mengarah ke tap water, keluar keran langsung
minum. Hidran kebakarannya di mana2, PMK tinggal ambil aja
tanpa pompa, karena tekanannya besar!
Mereka pembicaraannya pestisida, PCB, EDC, dst, sedang
kita masih TDS, SS, COD, pH!….sedih deh.
It also holds for wastewater and solid wastes.

Dulu orang Msia belajar ke RI, sekarang terbalik…alamak!
That’s life
All the best,
edot

———————————–

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] City utilities di Malaysia

Dear Pak Tri and others,
Kalian masih ingat PUH ndak? Itu lho rain period dalam
kuliah drainase? Intensitas hujan di SBY rasanya ndak
sampai 2000 mm, sedangkan K.Lumpur 2500 mm. Perhitungan
drainase & PUH di SBY saya rasa belum teruji, wong tiap
musim hujan SBY banjir terus. Sedangkan dalam tugas
Drainase saya rasa PUH 25 untuk kota sudah maksimum
(begitulah kata Metcalf & Eddy!).

Nah, 3 hari lalu KLumpur banjir, padahal drainase mereka
di design dg PUH 50! Luar biasa! Pasti duitnya gede buat
bangun saluran & rumah pompa! Gimana ndak banjir wong
dalam 3 jam datang hujan 900 mm (bandingkan dg 2500
mm/year!). Ironisnya, salah satu kantor yang kebanjiran
adalah kantor2 pengacara terkenal! Jadi bingung dan
marahlah pak Mahathir dan pak Sammy Vellu (Menteri PU!)!
Tapi ini secara literatur, marah setiap 50 tahun sekali!
Kita (masyarakat) marah berkali2, tetap aja ITS kebanjiran
setiap tahun!

Oh Tuhan, kapankah ilmu drainase ku benar2 bisa aku pakai?
Aku rindu proyekMu ya Tuhan, tetapi koq malah Kamu kasih
banjir setiap tahunnya? Aku salah apa sih? Janganlah Kamu
berikan hujan PUH 5000000 tahunan (?) seperti jaman Nabi
Nuh, karena ITS akan hilang dari peta dunia!

Renungan di akhir pekan
edot

—————————–

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] City utilities di Malaysia

ini renungan akhir minggu ya pak? apa yang direnungin?
negara kita yg boke,drainase kita yang salah
(mungkin), atau ngajak kita-kita doa ama Tuhan biar
jangan kebanyakan nurunin ujan? ya…mungkin kaya`
kata rhoma irama, yang sedang-sedang aja…
tengkyu
bella, L-19

—————————–

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] City utilities di Malaysia

Bella ini renungan buat kita (kalo kita masih kul ) agar
kita lebih rajin kuliahnya, nggak TA thok isine, or pas
UAS isinya do’a bukan untuk dapat posisi ujian bagus atau
do’a minta nilai kita A,
tetapi do’a agar supaya yang kita pelejari selama ini
bisa berguna ? (wah melankolis sekali ya aku)

Pak edot, mungkin desain drainase PUH di surabaya 25
tahun, tapi karena nggak ada yang ngurusi saluran,isinya
jadi sampah dan tanah sehingga volumenya mengecil, mungkin
untuk hujan periode 1 tahunan aja nggak muat, belum lagi
nggak ada dana untuk mengoperasikan pompa apalagi
memperbaiki pompa yang rusak, wah pokoknya banyak banget
masalahnya, dan yang pasti alasan pokoknya klasik : nggak
ada dana untuk itu.

Saya pernah coba mengeruk endapan tanah di saluran di
depan rumah saya, dan ternyata kedalaman endapan itu 3/4
kedalaman saluran (lucunya setelah 23 tahun saya tinggal
disitu, ternyata baru saat itu aku tahu saluran didepan
rumahku ternyata cukup dalam) pantesan daerah ditempatku
banjir terus

oh ya Bel, sejak kapan rhoma irama nyanyi sedang sedang
saja ? itu bukannya lagunya Vety vera ya?:)

Sekalian protes nih, yang ngisi millist ini kok alumni
semua ya ? mahasiswanya mana ?

tengkyu juga.

imam L-17

————————–

Banjir dan PUH
Menarik kalau kita kaji kembali masalah PUH.
Sepengetahuan saya, PUH adalah hasil analisa statistik dari serangkaian data hujan yang pernah terjadi pada suatu daerah (bener ya Pak Edot?). Karena ini analisa statistik tentunya berawal dari data, trus dikumpulkan, trus diotak-atik, trus muncul: kira-kira dalam 100 tahun muncul curah hujan sekian mm 10 kali (untuk PUH 10 dst).
Masalahnya apakah kajian statistik dari yang pernah ada itu masih relevan? Ini kalau dilihat ternyata kok tidak hanya asia, tetapi di tahun 2003 ini eropa barat dan timur juga kebanjiran? Apakah memang sudah waktunya (dalam artian PUH datang lagi!) atau karena sistem/pola cuaca/iklim/hujan sudah berubah dari saat analisa statistik (rumus2 mulai iwai sampai Sherman) dibuat?
Dan perkiraan tidak bisa (atau sulit) dilakukan dalam jangka waktu yang panjang. Lha wong tahun depan kemarau panjang atau banjir bandang saja kadang kita masih bingung dan terkaget-kaget begitu musim yang datang ternyata salah besar prakiraannnya.
Trus hubungannya denga perencanaan drainase kita apakah rumus-rumus yang ada masih cukup memadai untuk digunakan????

Wallahu’alam.

Andik L-14

——————————

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] Banjir dan PUH

iklim tidak akan berubah secara global setiap tahun
kan? mungkin tahun ini memang ada perubahan iklim
secara global. tapi kalo di sby 10 tahun terakhir
(sejak saya di sby) nggak pernah nggak banjir.
atau ada yang berminat bikin rumus baru khusus untuk
sby? jadi biar yang kita-kita punya referensi baru.
masak kita manut terus sama Metcalf&Eddy :)

Umi, L-11

——————————-

Re: City utilities di Malaysia — Protess !!

Sorry rada telat nimbrungnya.

Pak Edot,
Protes neh Pak.
City Utilities di Indonesia ada juga yang bagus lho..

Sewerage System.
Semua system air buangan domestiknya benar-benar diolah dan
dikumpulkan menjadi satu, kemudian diolah..bener di Treatment lho..
Ada yang sistem gravitasi full, ada yang pake sistem pemompaan karena
lahannya relatif datar.

Air Minum (Bukan Air Bersih lho..)
Air Minum yang diproduksi adalah standard Tap Water, alias bisa
langsung di “gluk” dari kran, tiap hari di uji kualitas biologynya
dan kandungan Free Residual Chlorine nya, setiap hari lho..ujinya.

Catatan lagi, kalo Pak Edot bilang untuk Fire Hydrant, Emergency Team
tinggal buka kran, trus airnya dah nyemprot sendiri, disini sama
lho..kita pake standard NFPA, bisa kuyup deh pokoknya..ga usah pake
pompa dah nyembur..

Persampahan.
Sanitary Landfill benar-benar diaplikasikan, dengan lokasi tempat
pembuangan dilapisi liner sehingga leacheate nya tidak meresap ke
tanah, melainkan di collect dan kemudian di treatment.

Cuman sayangnya memang kota ini, tidak tercantum di peta sih.. :(
Tepatnya di ujung Timur Indonesia, di pelosok hutan Papua, namanya
Kota Kuala Kencana, diresmikan Pak Harto tahun 1995.

Sayangnya ga semua perkotaan di Indonesia seperti ini.. :(

Salam,
Tenno Singgalang.
L – 8 / 1990

——————————

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] Re: City utilities di Malaysia — Protess !!

Jangan protes po’o.
Sebab bisa jadi konsep kota Kuala Kencana njiplak dari
kota Kuala Lumpur… Njiplak apik yo oleh to?

Beginilah enaknya kalau bisa kumpul2 lewat internet. Dapat
informasi baru terus. Apa debit air bersih kota K.
Kencana sampai 200 l/det? Ini penting kalau kita akan
diskusikan sustainability. Ndak affordability semu seperti
yg dijumpai dibanyak PDAM…sehingga waktu krismon, ndak
bisa bayar utang! Katakanlah sebagai perusahaan nirlaba,
tetap saja PDAM ndak boleh rugi! Fungsi sosial &
strategisnya membuat PDAM hrs selalu untung…jangan pakai
subsidi lagi lah! itu namanya pseudo-steady-state yang
bisa berakibat endogenous respiration buat PDAM!

All the best
eddy

—————————

City Utilities.

Hehehe..iya Pak Edot,
Saya ga jadi protes, makanya judulnya saya ganti dengan City
Utilities, biar diskusi lebih umum hehehe…

Buat Andik, memang aku juga lagi mikir2 nih, mampu ga Pemda membiayai
infrastruktur yang sudah bagus ini, kalo nanti Kota Kuala Kencana di
hand over ke Pemda. Mampu dalam arti segi pembiayaan, keahlian tenaga
kerja, profesionalisme dll..

Pak Edot,
Wah..nanti kalo subsidi dihilangkan waaah.. nanti dibilang pemerintah
tidak mendukung rakyat kecil neh… tar pada rekan2 mahasiswa pada
demo lagi neh..

Kalo debit air bersih Kuala Kencana sih kayaknya masih belum nyampai
200 liter/detik pak,
maklum malu bilang “Kota” hehehe..wong katagorinya baru Ibukota
Kecamatan hehehehe…
Tapi memang sih yang kami apply disini standardnya menggunakan
standard WHO, bahkan kami juga mempunyai instalasi Fluoride di Kuala
Kencana itu untuk meningkatkan kesehatan gigi.

Kalo dari beberapa kota yang pernah saya kunjungi (Backpacker),
mulai dari muter-muter di Jawa, trus jalan ke Jambi, Bukittinggi,
Padang, Denpasar, Banjarmasin, Balikpapan dan Samarinda. Terus terang
saya sangat terkesan sampai sekarang adalah Kota Balikpapan.

Berdasarkan pengamatan saya di Balikpapan kesadaran dan partisipasi
warga kotanya sangat mendukung, karena juga aparat pemerintahnya yang
bagus. Meski angkot di kota ini banyak banget, tapi jarang deh
kayaknya jalanan macet.. wah..pokoknya apik banget deh..
Tapi ga tau ya sekarang, soalnya saya sudah meninggalkan Balikpapan 5
tahun lalu.

Buat Aliem, kalo ga sempat jalan2 di Balikpapan waah..nyesel deh.. :)

Cheers,
Tenno.
L-8

—————————

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] City Utilities.

urun aja,

sekarang berkembang diskusi mengenai peran pemda, masyarakat dan pihak lain (PT, swasta) untuk bersama-sama ‘sinergi’ ngurusin kepentingan bersama, jadi nantinya ndak terjadi saling menyalahkan kalo ada apa2- misalnya banjir, korupsi, macet, kebocoran pipa, bbm naik, sembako naik dll.

semuanya setara sebagai mitra dan saling membutuhkan untuk membangun/memperbaiki infrastruktur, merumuskan kebijakan publik, dll yang menyangkut hajat hidup kita semua. nantinya pemerintah berperan sebagai steering atau facilitating bukan lagi (rowing) pelaksana…meski dari namanya sebagai pemerintah (tukang perintah ini itu…heheh) sorry sing bapake/ibune ngasthane di pemda.

analogi steering katanya kayak kita naik taksi waktu kita nutup pintunya (dr dalam lho) trus bilang kita mau pergi kemana..n pak sopir bilang oke..so kita serahin nasib kita ke pak sopir (mo selamet, ndak nyasar dll), lha gimana wong yg pegan setir kan beliau. nah katanya lagi biar asyik, untuk itu kita harus deal dulu ama p sopir bhw kita maunya lewat jalan ini, bukan yg jalan yg itu, karena lebih cepet n ndak macet. trus biar kita ndak salah kasih info, ndak dibujuki kita juga harus tau dulu situasi jalan yang akan kita lewati (jadi kudu ada perencanaan dulu juga). misalnya nanti kita tahu sopir kita ngawur ditengah jalan ya harus diberhentiin n kita turun (mau bayar atau ndak, kalo mau bisa aja diurus ke pengadilan, kalomau repot), alias dilengserin.

contone kalo kita baca di koran, yg ada kan pasti saling menyalahkan….waktu jakarta banjir, pak gubernur bilang itu lagi musim banjir (5 tahunan) (mungkin dibisiki sama staf ahlinya..hehhe sorry aja bagi skrg yg dah jadi staf ahli…. siapapun) trus nyalahin rakyatnya kalo kurang disiplin, rakyatnya bales ngomong kalo gubernurnya ndak becus (lha piye wong gak becus kok dipilih lagi) ngrencanain, trus ndak sigap kasih bantuan waktu ada bencana dll, nuduh gubernur kasih ijin mbangun sembarangan, swastanya bilang kalo udah bikin amdal dg bantuan ahli amdal dari TL !. n waktu mbangun juga kasih makan orang2 alias rakyat miskin. (padahal kan rakyat ndak hanya butuh makan, lha kok dibayar hanya untuk makan,hehheh).

jadi katanya lagi, yg kita cari nantinya orang2 baik yang bisa jadi pemimpin kita, lha untuk tahu bagaimana orang baik itu, kita harus pake hati nurani kita (penjahat pun katanya (lagi!) kalo ditanya kenapa dia jadi penjahat pasti punya alasan yg mendasarinya dan dia juga tahu kalo yg dilakukannya juga salah (tapi tetep nekad melakukannya) dasar penjahat!..dan dia juga ndak mau anaknya jd penjahat (kecuali keluarga mafia mungkin). jadi hanya orang baik yang tahu apa yg jadi kebutuhan nyata dari seluruh rakyatnya….bukan hanya pemilihnya aja.

sorry klo banyak katanya

salam smua

tri maulana

———————

Posted in 2003 | Leave a Comment »

NH3

Posted by HUDA L-13 pada 12 Juni 2008

————arsip diskusi milis t-lingkungan-its bulan Mei 2003—————–
NH3
I have a question abt ammonia removal..
Do ammonia can be removed from water by oxidation process like Fe & Mn removal ? i read the principles of gas transfer, ammonia is one of contaminants that can be processed by gas transfer, so it means ammonia can be removed by oxydation (it’s my conclusion….plz make correction if i’m wrong). If my conclusion is right, ammonia can use another strong oxydator like KMnO4, Cl2, Oxygen (gained from gas transfer), etc.But in PDAM Balikpapan which their water contain NH3, water would be red if they try to oxydize their water by Cl2 (it’s my student said). I can’t find the answer, i thought…red is color of ammonia dispersion and will precipitate after that (but it’s my conclusion as well), maybe one of you has an experience how to treat NH3 with the cheapest, simplest & easiest way. I looking forward to get the answer. Thank you.
Sweety Nyomy
—————————-
Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] NH3

Dear Nyoman,
Are dealing with water supply or wastewater? How come you
have ammonia in your water supply! Treat that water as
wastewater if ammonia is there! Oh my God! If you put
chlorine intensionally in the water, you going to kill the
whole city population! Low ammonia content kills baby
easily! THM (tri-halo methane) is carcinogenic! It drives
you insane!

In wastewater, it is treated by stripping or
denitrification! Clear water is not clean water. Tap water
is not only clear and clean, but also is palatable and
free from organisms. That is why the BOD/COD content is
0.

Good luck
edot

—————————-
Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] NH3
Mbak Nyom,
Amonia yang ada dalam air kadarnya berapa?
Setahu saya warna merah bukanlah ciri dari amonia yang bereaksi dengan Cl2. Saya curiga ada yang lain, selain amonia dalam air tersebut, sehingga menyebabkan ketika bereaksi dengan Cl2 warnanya merah.
Dalam kadar tertentu konsentrasi Amonia tidak berbahaya, dan kadangkala malah ditambahkan dalam air, untuk mencegah bahaya pembentukan THM dari klorin bebas. Kloramine yang terbentuk merupakan desinfektan, walaupun tidak sekuat klorin.
Eh, sampeyan di Magelang mana? Boleh main ke sana gak? Saya di Jogja…..
Wassalam
Andik
—————————-
Sorry, I wrote the answer in Indonesia language
Saya kurang tahu persis berapa kandungan NH3 yang ada dan berapa kapasitas
yang akan diproses, menurut saya jika kapasitas dan kandungan NH3 yang dihasilkan
besar kenapa tidak pakai extended aeration saja, tetapi jika kandungan NH3 kecil sementara
kenapa tidak memakai Dissolved Air Flotation saja, DAF bisa dipakai untuk kapasitas
besar dan kecil.
Berdasarkan pengalaman saya di Sangatta dan di Bontang air baku PDAM menggunakan air
sungai, dimana kandungan Fe dan warna cukup tinggi tapi juga ada kadar NH3-nya beberapa ppm.
Dengan DAF, bisa meremoval Fe sebesar 9 ppm dan warna sebesar 500 NTU. Sedangkan NH3
dapat diremoval beberapa persen.
Untuk lebih jelasnya dapat di sambung selanjutnya. 

niko prasetyo 
-----------------------------

Posted in 2003 | Leave a Comment »

English on elective subjects

Posted by HUDA L-13 pada 12 Juni 2008

———–arsip diskusi milis t-lingkungan-its bulan Mei 2003————–
English on elective subjects

Dear all TL alumni,
Ini sebenarnya email saya kedua. yang pertama tak tau
nyantol dimana? Kalau memang terduplikasi, mohon
dimaafkan. Ini saya sampaikan lagi, sebab saya bisa
dianggap bersalah kalau tdk menyampaikan dalam forum
berbahagia ini. Demikian juga email saya ke mas Andik,
mbak Nyoman Marleni, dan mbak Rima Sembayang, mudah2an
sampai semuanya….saking banyaknya email.

Saya pernah mengusulkan supaya diajarkan mata kuliah
pilihan dalam full bahasa Inggris. Jadi UTS/AUS juga akan
diujikan dalam English. Tapi ini hingga sekarang belum
terlaksana. yang ada hanya anjuran saja, jadi suka2 lah,
dan itupun sekarang tidak jalan juga.

Mengapa saya usulkan untuk matakuliah pilihan, sebab
mungkin tidak memberatkan. Lagipula, yang merasa
Englishnya not good enough, bisa mengambil mata kuliah
pilihan lain, ataupun hanya sit-in saja. Kebetulan ada
beberapa students yang hanya sit-in di kuliah saya.

Mata kuliah inipun hanya diambil oleh mahasiswa baru saja,
yang sudah tau akan ada matakuliah pilihan tertentu dalam
bahasa Inggris sejak UMPTN nya. Jadi ndak usah ambil TL
(bahkan mungkin begitu) karena ada matakuliahnya yang
dalam full English. Ini tentu tidak memberatkan mahasiswa
angkatan ‘tua’.

Mengapa ini saya usulkan. Suka tidak suka, AFTA sudah di
depan mata. Apalagi kalau bu Mega bilang ya! Habislah
alumni kita dalam bersaing lapangan kerja. Misal saja ada
lowongan kerja (dari KOMPAS misalnya) untuk sarjana TL
dengan salary US$1.000/month. Bisa jadi mahasiswa kita
(baca: Indonesia) lolaklolok just for the sake of poor
English!

Well, ini hanya pemikiran. Kalau kita pilih status quo, ya
ndak apa. memang itu maunya. Tapi kalau mau satu nilai
tambah, mungkin forum berbahagia ini bisa membantu
mewujudkan rencana itu, ataupun melalui cara lain.

All the best. Please contemplate during the weekend.
WAssalam
edot

—————————-

Re: English on elective subjects

Pak Eddy,
Saya setuju sekali dengan usulan Pak Eddy untuk memberikan mata
kuliah berbasiskan bahasa Inggris.
Karena kebanyakan kelemahan kita adalah dari segi bahasa Inggris ini.

Tempat dimana saya bekerja, kami nmenggunakan dual bahasa,
yakni bahasa Inggris dan bahasa Indonesia,
dan kecenderungannya bahasa Inggris dipergunakan dalam pekerjaan
sehari-hari, reporting, email, ataupun hal-hal lain.
Dan saya yakin di tempat kerja beberapa rekan Teknik Lingkungan yang
lain pun mengalami system yang sama.

Sudah waktunya memang kita berpikiran global,
karena memang AFTA sudah didepan mata.

Mungkin sekedar bayangan, banyak perusahaan2,
lebih senang meng-hire orang2 dari Filipina atau India,
karena mereka didukung bahasa Inggris yang baik,
dan selain itu etos kerja yang bagus.

Dan terus terang buat rekan-2 Teknik Lingkungan,
seperti yang diutarakan Pak Eddy, salary US$1000/month itu bukan
suatu impian.

Dan sekedar info kalo teman2 sempat membaca di Harian Kompas sekitar
akhir Maret 2003, ada lowongan dari Qatar Petroleum, yakni untuk Air
Quality Monitoring Technician, salary US$1000 – US$1500 /month, cuman
sayangnya status yang ditawarkan kepada saya saat pada saat itu
adalah Single Status.

I am sure if we want to make a move, we should trying hard to achieve
it..

Good luck.

Regards,
Tenno Singgalang
Environmental Engineering
Towns Management PT.Freeport Indonesia

—————————

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] English on elective subjects

Assalamualaikum
Wah menarik juga, mudah-mudahan belum terlambat ikut dalam sumbang pikiran ini.
Saya masih teringat waktu acara “pembayatan” graduate saya awal th. 2000 (3
tahun lalu). Beliau (pak Eddy atau Pak Edot) bilang, 2 hal pada kami.pertama,
kalo memungkinkan sarjana TL “pulang kampung” untuk memberian partisipasi
keilmuan dan keprofesiannya pada masyarakat luas. hal ini dengan dibukanya pintu
otonomi daerah yang konon membuka opportunity di sana.kedua, masalah komunikasi,
dalam hal ini adalah bahasa sebagai medianya. beliau mengatakan akan terlambat
bila ‘kita-kita’ yang mau lulus ini dulu, baru belajar english. nggak ada waktu
kata beliau, karena waktu kita totally spending for jobs.
saya juga masih ingat perkataan Pak Wahyono saat kuliah umum/seminar ketika saya
kuiah di semester pertengahan kuliah saya.Beliau (PAk Wah) mengatakan, jangan
jadi ‘pekerja kelas kedua’ hanya karena masalah komunikasi (=English).

kembali, ke usulan/tanggapan dan opini teman-teman tentang masalah ini, saya
sangat mendukung apa yang pak Edot kemukakan.tapi satu hal yang terus terang
mengusik saya:”Pak, kenapa sich baru sekarang Bapak atau dosen lainnya
mengusulkan itu? koq tidak dari dulu? kan kita-kita yang ‘terlanjur’ lulus ini
bisa dapat merasakan manfaatnya.”

Saya waktu awal lulus memang mengalami kesulitan untuk mengadaptasi mengenai
pekerjaan dan lingkungan (=budaya) kerja. Memang hal ini sangat wajar bagi
seorang fresh graduate di indonesia.apalagi pengalaman saya langsung terjun di
perusahaan MNC (multi national Company) yang base communication-nya pake english
whether speaking or writing.

Kaget? tentu saja, Pak.Gimana nggak kaget, dari seoarang mahasiswa lulusan
soroboyo yang bisa driven-language-nya jowo and Indonesia langsung mau nggak mau
ngomong cas-cis-cus english.
kalo masalah ngomong terus terang saya dulu belum fluent, jadi masih ketolong
dengan kedua tangan untuk mengisaratkan sesuatu (tarzan’s
language).allhamdullilah si bulenya ngerti juga walupun sambil
nyengir…hehehe.(kasihan dech gue).
Nah, nyang berat adalah masalah reporting.saya musti nulis pake
english.pekerjaan saya paling banyak adalah masalah reporting ( fresh graduate
biasanya di posisi supervisor). tapi memang saya diuntungkan sekali lagi, kalo
penulisan laporan itu nggak ada formatnya. jadi report saya (weekly, monthly and
semester) saya inserting gambar/lay out dan dikasih panah-panah penunjuk,
menginstruksikan/proposed/recomendated seerti broken, fracture, install, get new
etc…
jadi laporan saya banyak gambarnya, kaya anak TK menggambar….hihihi.

waktu berlalu, saya sedikit demi sedikit belajar english lagi dgn otodidak
(practical english).inget saya sama TKW-TKW yang dikirim ke abroad yang perginya
dapat ngomong ‘English Jowo’ tapi pulangnya bisa ‘english singapore’.Memang,
diakui orang indonesia itu ulet-ulet apalagi anak lulusan ITS (=pIntar,
Trengginas, Soleh).memang lulusan lain ok-ok seperti alumini UI,ITB,GAMA, tapi
lulusan ‘kita’ punya added value yang jarang dipunya alumni lain.that’s
Tringginas alias Ulet.Saya pernah ngobrol ama bule Amrik yang udah tahunan di
sini, dia bilang suka sama lulusan ITS dibanding yang kesebut diatas.dia bilang
kalo lulusan lain suka individual kalo kerja, kurang cepat/tanggap dan ulet
menyelesaikan masalah, kurang tahan underpressure, dan suka ‘kutu loncat’(=cepat
resign).
jadi,Memang kualifikasi untuk masalah bahasa, kita kurang jauh, tapi apa hanya
itu saja yang membuat seorang candidate gugur?apa nggak ada faktor
lainnya?(retorik buat Mas Andreas).

“Witting tresno jalaran soko kulino”.orang jawa bilang datangnya cinta dari
kenal. kalo kita kenal maka benih-benih cinta muncul, Katanya sich….
Alumni TL nyang meniti karier di bidang SHE (safety, Health, and Environmental)
awalnya pada posisi setaraf supervisor (level menengah), tapi karena bidang ini
specific dan lebih menuntut profesionalisme maka job description-nya hampir
setara Assisten manager atau malah manager.di perusahaan besar dan asing, posisi
di bidang ini, person in charge biasanya report directly ke general
manager/plant manager (top manajemen/decesion maker).maka, sekali lagi, masalah
bahasa (english/china/korea/japan dll) sepertinya ‘kudu’ buat kelancaran tugas
pekerjaanya.jadi di banyak perusahaan posisi di SHE ( apa itu di safety, health,
environmental) merupakan kursi terhormat.person di posisi lain umumnya sangat
respect pada person di posisi ini.
sebagai contoh,PIC di safety mempunyai kewenangan bisa menginterupt proses
produksi (bagian produksi) jika memang ada trouble masalah safety di sana, dan
ini memepengaruhi lainnya.atau seorang environmental bisa men-delay material
proses bila material itu terindikasi terkontaminasi hazardous waste atau stop
plant karena laju emisi activitas plant berbahaya untuk komunitas masyarakat (my
experience in Borneo Island).
Kadang bule nggak ngerti atau pura-pura ngak ngerti atas masalah lingkungan
(double standart,politics,firm capital,praktek tanam uang,dll)misalnya.Ini yang
repot, environmentalist umumnya sebagai perantara antara pihak eksternal
(Bapedal/da, pemda, masyarakat dll) dan pihak (top) manajemen.apalagi bila ada
claim atau sengketa masalah lingkungan.disini perannya sebagai interpreter
bahasa/liason/advisor/mediator antara masyarakat dan pihak perusahaan.

Sepertinya masalah bahasa memang merupakan bagian dari kehandalan
pekerjaan.entah itu ada AFFTA, GATT, atau lainnya, tapi yang pasti masalah
komunikasi (bahasa) mau nggak mau akan bersinggungan eh interseksi dengan profil
candidate.

sorry, jadi panjang….
jadi saya sangat setuju tanpa reserve kalo Pak Eddy mau mengadakan up grade bagi
mahasiswa di bidang bahasa (kalo bisa ditambahin work culture,Pak).
dan kalo ada komponen writing-nya dilebihkan.juga kalo bisa jangan suka-suka,pak
langsung aja di Obligate aja.biar mahasiswanya ‘bangun’, toch nyang merasakan
mereka juga nantinya.kalo mengenai student yang timpang kemampuan english-nya
tetap diikutkan aja, mungkin pake classes base on english ability-nya.Saya yakin
100% kalo anak-anak ITS cepat belajarnya.jepang bisa maju karena kemauan dan
kedisiplinan serta sistemmya yang keras.

Demikian dari saya, semoga bermanfaat bagi semua. bila ada kata-kata yang tidak
berkenan, saya Mohon maaf sebesar-besarnya sebelumnya.

Wassalam,

Andhi setyonugroho (Andhi)
Mantan TL angkatan’95

———————–

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] Re: English on elective subjects

Pak Eddy..
Saya juga setuju sekali.
Kebetulan saya kenal Manager HR&P D bagian recruiting
Caltex …
Beliau pernah cerita kalau lulusan Indonesia timur
(ITS, Unair dan UNIBRAW) baru banyak tersaring sejak
lulusan 90 keatas …

Sebelumnya selalu kalah dalam ujian Englishnya.

Kalau dulu UGM karena cuma satu2nya yang ada geologi

Kemudian ITB yang ada perminyakan dan pertambangan ..

Selain jurusan itu…selalu kalah dgn UI dan
sekitarnya di Jakarta ..

Sebab di Jakarta, masalah komunikasi dengan
menggunakan bahasa Inggris sudah menjadi suatu trend
yang tidak “wagu” lagi.

Berbeda dengan kita …
Di kantin misalnya …
Ngomong pake bahasa Indonesia saja…selalu banyak
orang bilang “hancik….podo jowone ae ngomong
planet..”
Dan itu juga sering saya alami waktu kuliah …
Apalagi pakai bahasa Inggris …dikira sok …

Trend di Indonesia timur …
Komunikasi global belum menjadi sebuah kebutuhan
mutlak …masih kalah dengan ego “jowo” kita
So …
Kalau salah satunya dicoba untuk dibawakan lewat
kuliah …
Saya pikir itu adalah suatu permulaan yang bagus …

Regards,

Andreas Krisbayu
HSE Officer
Imeco Inter Sarana
Tuboscope Vetco International – A Varco Company

—————————–

Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] English on elective subjects
Assalamualaikum,
Sangat menarik usulan dari Pak Edot. Dan hampir semua yang masuk mendukung usulan tersebut.
Memang ada baiknya kalau bahasa Inggris digunakan sebagai nilai tambah, misalnya dalam perkuliahan-perkuliahan pilihan. Dulu bahkan dalam perkuliahan PBPAB, Pak Joni juga sempat mengadakan kuliah dengan bahsa Inggris. Barang kali juga patut dicoba kalau diberikan dalam asistensi-asistensi tugas…bukankah interaksi yang paling dekat antara dosen dan mahasiswa saat asistensi?
Hanya saja rasanya kok ada yang kurang sreg di sini. Memang ini bukan masalah nasionalisme, harga diri bangsa dsb yang rasanya memang sudah klise, tetapi tengok, bagaimana kita berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia banyak yang sudah melupakan kaidah EYD kok kita sudah mau mencoba “merambah” ke yang lain.
Bukan saya anti dengan bahasa Inggris, Jepang, Rusia dsb. Tetapi mengingat baha salah satu unsur kebudayaan adalah bahasa, bahwa dengan mencoba memasukkan bahasa lain ke dalam perkuliahan berarti kita harus bersiap pula ada unsur kebudayaan yang lain masuk. Belum lagi adanya keluhan akan “hegemoni bahasa”. Mengapa harus bahasa Inggris? Lepas dari persaingan yang pernah ada antara Perancis dan Inggris misalnya, orang Perancis akan menjawab dengan bahasa Perancis kalau sedang di Perancis. Kita selalu melihat bahwa bahsa Inggris selalu dibutuhkan, betul kalau kita berurusan derngan orang asing. Bagaimana dengan yang lebih banyak kontak dengan bangsanya sendiri, misalnya masuk ke pedalaman?
Memang usulan menarik lebih membumikan bahasa Inggris dalam pendidikan, tetapi mengingat pendidikan tidak hanya menjadi pelayan bagi kepentingan kapitalis, ada patutnya lebih berhati-hati dalam menerapkannya.
Wassalamualaikum,
Andik L-14
—————————–
Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] English on elective subjects
a trully excellent idea.what if u ask ur `little brother or sister (gee…isn`t this sweet?) about having a lecture in english.it`s tough.i think it takes lot of time to prepare myself. i do really -really realize it`s an excellent idea.i know how important english is. in fact, my `dosen wali`, bu ellina, made me promise her that i`ll have an english course.cos my english is suxx (is `suxx` rude?if yes, then i`m sorry).but it`s hard.specially d grammar.
how`s my english? not bad ?but…whatever will be,will be.
i wanna say hi to all my senior, teacher, especially Mrs.Ellina
bella L-19
——————————————
Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] English on elective subjects
It’s very good idea. Well, I remember when I was in campus, that many of my friends didn’t expert in engllish and they had very serious problem when read the english book for the first time. and I have the trouble too. especially when read the speciall vocabulary of env. eng. It made me very confused then. Hehehehehe….so…It’s hard for me to understood the meaning of the knowledge. Well I just want to share and I’m sure that there are still some of the student, especially the new ones have the difficulty of understanding the lecture.
By the way, aku ada usul, gimana klo lagi opsek hal ini juga diajarain ke mahasiswa baru. Supaya jangan sampai saat baca buku water supply dan ada istilah ‘head’ mereka pikir itu kepala…..konyol kan. Aku rasa hal ini akan sangat membantu dalam proses pemahaman materi. Apalagi (maaf, bukan bermaksud menyinggung) jika semasa sekolah smp atau sma ada didaerah dan tidak punya kesempatan utk memperdalam bahasa inggris apalagi bhs inggris di TL istilahnya lumayan banyak.
Oke deh segini aja. Semoga bisa menggugah hati pengurus HMTL ataupun para senior yg lain.
Agatha, L-10
———————–

ttg bahasa

Maafkan saya bila terlambat menanggapi diskusi ttg rencana pemakaian Bahasa Inggris dlm perkuliahan.

Beberapa bulan yg lalu, saya ngobrol dgn salah seorang ibu dosen kita di kampus. Beliau mengeluhkan pemakaian Bhs Indonesia yg kacau di dlm tugas-tugas maupun laporan KP dan TA. Jadi setiap kali mengoreksi laporan, jadi suntuk sendiri, bukan krn intisarinya (belum), tapi pandangan pertama pd kalimat dan apa yg tertulis. Menurut beliau, kalimat yg disusun tdk sesuai dgn platform : S P O K, mahasiswa/i cenderung menyusun kalimat yg tdk ada “juntrungnya”, tanpa arti, mbulet dsb. Pemakaian kata depan (sbg bagian dari EYD) juga banyak yg salah, kalimat cuma dilihat dari awalan huruf besar dan diakhiri dgn titik. Entah semua itu disengaja (krn ngerjain-nya terburu-buru, belum sempat dikoreksi ulang) ataukah mahasiswa/i tdk mengetahui pakem EYD ? Mungkin Pak Edot & Pak Joni juga mengalami hal sama ?

Yach tdk dipungkiri kemungkinan besar saya juga termasuk dlm golongan di atas.

Dari situlah beliau ingin mengusulkan penambahan mata kuliah Bahasa Indonesia pd kurikulum TL yg akan datang.

Kalau boleh saya berpendapat bahwa sebenarnya pelajaran Bhs Indonesia mulai dari SD sampai SMU sudah cukup, namun masing – masing dari kita seharusnyalah mempunyai kesadaran bahwa teori yg didapatkan bukan hanya utk mencari nilai, tapi diamalkan dlm keseharian (juga dlm mengerjakan tugas2).

Pd tahapan SD, dasar yg kuat dan kokoh harus ditanamkan (dlm berbagai segi, termasuk pemakaian bahasa yg baik dan benar). Namun kecenderungan yg ada, saya melihat dari bbrp murid salah satu SD swasta di Pucang, pemakaian EYD belum semuanya benar, bahkan dlm mengerjakan PR Bhs Indonesia sendiri (trtm mengarang). Kalaupun diingatkan, jawab mereka: “Wong bu guru sendiri ngga’ nyalahin kok!” . Kalau sudah begini bagaimana hayo ??? Semoga murid yg lain tdk spt itu (Amin…)

Saya ingat pas SD dulu (SD saya di desa), aturan penulisan benar-benar ”ditegakkan”. Apalagi SMP, wuah…..lebih ketat lagi. Saya beruntung memiliki guru yg baik, tapi ya sampai sekarang -kadang-kadang kalau ngga buka sari kata, ada yg terlupakan.

Ada baiknya memang kita belajar bahasa asing, terutama Bahasa Inggris, tetapi ya mbok yo’o masih apal dan mengamalkan EYD tsb, mosok boso’e dhewe dilalekno! : >

Yaa…itu semua tgt dan kembali pd pribadi masing – masing. Kalo bukan kita yg mulai, lalu siapa ???????

Saya dapat info, bahwa dari hasil Konferensi Johannesberg (maaf kalo sebutannya salah) menyepakati semua penduduk dunia pd tahun 2015 sudah harus mendapat pelayanan air siap minum (tap water). Jadi nantinya ada unsur ”tolong – menolong” antar negara / organisasi keuangan untuk mewujudkan hal tsb. Siapkah Indonesia ???

Buat Andik ’96, met ultah sam!

Moga karirnya lancar, seger waras, n cepet nikah. Aminnn… Undangane ta’ enteni lho…..:P

Salam Penghuni H 304 A

Intan ‘96
——————————
Re: [T-LINGKUNGAN-ITS] ttg bahasa
ikut komentar dikit.
disini kita kalo menulis thesis/karangan ato apapun, ada student service khusus untuk mengoreksi laporan kita (tanpa biaya disediakan sekolah, ada juga penjual jasa semacam-dgn biaya-) dalam masalah bahasa/tata bahasanya. bagaimanapun juga bahasa yang bukan bidang keahlian kita, memang bagus jika kita bisa benar2 menguasainya, tapi akan sangat menolong jika ada bantuan dari student service semacam utk membantu mengoreksi.
dosen disini akan sangat maklum dengan penguasaan bahasa murid ‘asing’ dalam komunikasi, presentasi maupun penulisan laporan, bukan pula berarti murid ‘lokal’ dapat dengan lancar menuliskan laporannya, karena memang susah untuk dapat mengekspresikan penelitian ke dalam kata2. tidak sedikit murid ‘asing’ yang lebih memperhatikan kaidah berbahasa daripada murid lokal.
Kembali ke pengalaman pribadi jaman sekolah, saya paling sedih dengan adanya ‘mengarang’ (essay), karena memang bukan bakat saya. Saya sadari memang sedikit banyak bermanfaat at the end of the day. Tapi mengarang itu salah satu ‘nilai jatuh’ saya. Kalopun ditambah lagi kursus bahasa intensif, mungkin berpengaruh untuk menambah skill, tapi jika hanya regular, bisa2 menambah nilai E saya :(.
Kalo dirasa perlu mungkin ada baiknya hima TL mengumpulkan mahasiswa yang ‘mumpuni’ dalam hal berbahasa supaya dapat membantu anggota lainnya dalam pengerjaan laporan2 dan semacamnya.(atau ada yang melihat ini sebagai ‘peluang bisnis’? monggo…)
salam dari melben
Agusta
————————————
Re: ttg bahasa
melok nimbrung,

ketidakpatuhan thd EYD dlm penulisan TA/KP memang memprihatinkan.
saya sendiri masih ingat ketika menulis laporan TA, saya banyak
mengambil (comot) langsung dari sumber penelitian/TA terdahulu.
istilahnya ‘mbacem’ dengan cara copy-paste, yg penting saya
menyebutkan sumbernya, aman. kalimat berpola S P O K belum saya
perhatikan karena menurut saya penulisan TA sangat sulit membuat
kalimat yang pas, simpel dan sesuai dengan kaidah struktur bahasa.
tetapi dalam pengetikan saya mengupayakan utk menerapkan EYD yang
saya ketahui. saya lihat teman2 yg lain malah lebih amburadul lagi
dlm pengetikan. malah sering kali teman2 meminta saya utk membantu
mengedit TA mereka.
contoh:
1. pertanggungjawaban, sering ditulis pertanggung jawaban <diapit
oleh imbuhan hrs disambung>
ketidakmampuan, —- !! —– ketidak mampuan
2. di samping itu, —– !! ——- disamping itu <menunjukkan tempat
hrs dipisah>
di bawah ini, ——- !! ——- dibawah ini
3. ditunjukkan, —— !! —– di tunjukkan / ditunjukan

contoh yg sering adalah penggunaan kata :di mana
1. menulis rumus, misalnya: E=mc2 lalu di bawahnya ditulis dimana
<penulisannya disambung bukan di mana> E=energi m=massa C=kecematan
chy dst. padahal menurut EYD, di mana, itu mestinya utk kalimat tanya
seperti: “di mana rumahmu?” ini akibat dari transfer langsung dari
bhs Inggris, where.
2. kalimat:”pengolahan limbah di PT Amburadul dilakukan secara
aerobik dengan sistem Oxydation ditch dimana supply oksigen
menggunakan Mammoth Rotor.” mestinya:” PT Amburadul melakukan
pengolahan limbah secara aerobik menggunakan Kolam Oksidasi yang
dilengkapi dengan Mammoth Rotor sebagai menyuplai oksigen.”

di kalangan dosen juga sangat sedikit yang memperhatikan tata bahasa
dalam membimbing TA mhs. mungkin masih 1-2 orang saja yg betul2
memperhatikan & mengoreksi ejaan/penulisan/struktur kalimat dalam
laporan KP/TA.

usul utk menyelenggarakan kuliah B. Indonesia mungkin perlu. tapi
perlu dipikirkan juga krn 12 tahun belajar B.Indonesia (SD-SMP-SMA)
toh, kita masih melalaikan penegakan bahasa yang benar. menurut saya
yg diperlukan di kampus adalah seminar/workshop/pelatihan B.
Indonesia yg pesertanya tidak hanya mhs tapi dosen juga. tinggal
penegakannya saja, krn pada dasarnya kita cukup menguasai. seperti
contoh: mata kuliah B. Inggris (sekarang masih ada apa tidak ya?)
walaupun ada mata kuliah B. Inggris (juga sejak SMP-SMA) toh masih
kurang juga penguasaan kita, tetapi ini mungkin lain krn B.Inggris
bukan bhs Ibu.

ttg penggunaan bhs di milis ini, sesuai dgn motto bebas tapi sopan,
maka tidak ada pembakuan apapun dlm penulisan. mo English kek, mo
Suroboyoan kek, mo bhs Tarzan (mungkin khusus buat mas Lukito dan
rekan2 yg tinggal di pedalaman sono hehehe…) atau campu aduk nggak
karuan monggo, silakan, up2u. asal bisa dimengerti dan tetep menjaga
kesopanan, krn milis ini lintas angkatan, lintas warga TL, lintas
budaya, lintas agama de el el.

mohon maaf kalo ada kekeliruan.
salam dan tetaplah menulis,

Aduh

—————————————

Posted in 2003 | Leave a Comment »

Temu Alumni 25 Tahun Teknik Lingkungan ITS

Posted by HUDA L-13 pada 3 Juni 2008

Dear Rekan2 TL ITS

Masih ingat :
Teman2 seperjuangan…….yang baik, manis, sangar, gondrong, kutu buku, activis, pinter, sering bolos, sering ngentutan di kelas (menjadi masalah karena “gak bunyi lagi”), dateng pagi2 buat pinjem tugas, melek’an ala bang rhoma….(tapi malah tidur pas kuliah…)

TL Camp ……dengan “roll play”nya dan penguasa2 yang sangar..
ngalah-ngalahi pocong 3 apalagi hantu jeruk purut…

Asistensi……..menunggu dosen sampe keturon untung gak dicipok kucing

Ngedrop Kuliah……….wis isin antri maneh..he..he

Cakrukan……….dengan rokok’an, merumpi atau membahas tugas, koran, politik, masalah demo SDSB, NKK/BKK/ kemahasiswaan, uang kost, motor rusak, orkes dangdut, baceman, totoan bal-balan atau billyard….

Kantin…………….tempat ngobrol se tuwuk-tuwuknya plus lek kenal iso diutangi…. hayo ngaku !!

Dari pada sekedar mengingat dan membayangkan ……
Siapkan waktu dan diri anda pada acara :

Sarasehan Alumni TL ITS
Temu Alumni Teknik Lingkungan ITS
dalam rangka 25 Thn TL ITS

Tema Acara Kita :
Perkuat ikatan,
Membangun jaringan
dan Menggali potensi kerjasama Alumni

Tujuan Acara Kita :
Membangun Komitment yang Kuat
Menggali Komunikasi dan Informasi dari sumber2 potensi Alumni yg ada
Distribusi Kerjasama kepada alumni sesuai potensi yang ada.

Remember the day !!
Surabaya, 15 November 2008

Novotel/ JW/ Mercure/ Hyatt (To be confirmed later)
Peserta : + 300 orang

Ayo Rek Wayahe Teko, Kumpul terus Tandang Gawe Bareng ……..

Presented By :
IKA TL-ITS

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Hello world!

Posted by HUDA L-13 pada 3 Juni 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.